AS Goyang Pemerintahan Kuba Lewat ‘Twitter Kuba’

Sejak berdiri di tahun 1945, PBB mengakui ‘hak setiap bangsa untuk menentukan nasibnya sendiri’. Namun demikian, pada prakteknya, pengakuan itu hanya berlaku di atas kertas.

Di sisi lain, antara 1945-2005, AS terlibat dalam upaya penggulingan 50 pemerintahan di berbagai belahan dunia, terutama di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Padahal, sebagian besar pemerintahan itu terpilih secara demokratis di negerinya. Hanya karena AS tidak menyukai sikap bangsa-bangsa tersebut untuk ‘menentukan nasib sendiri’.

Sayang, hingga sekarang ini, PBB belum pernah menjatuhkan sanksi terhadap AS atas tindakannya itu. Padahal, dalam banyak kasus, AS bukan hanya menggulingkan pemerintahan setempat, tetapi juga mensponsori ‘pembantaian massal’ terhadap rakyat pendukung pemerintahan negeri bersangkutan.

Di hari pembuka tahun 1959, Revolus Kuba meletus. Rezim Fulgencio Batista, yang sangat disokong oleh AS, terguling. Sejak saat itu, di bawah pimpinan Fidel Castro, Kuba berjuang untuk menentukan nasibnya sendiri. Mereka menciptakan jalan lain: Sosialisme.

Tetapi AS tidak ‘merestui’ pilihan Kuba tersebut. Sejak saat itu pula AS menggunakan segala macam cara, termasuk agresi militer dan ekonomi, untuk menggulingkan pemerintahan Revolusioner di Kuba.

Satu peristiwa yang terkenal adalah penyerbuan Teluk Babi tahun 1961–hanya dua tahun setelah Revolusi. Saat itu AS, melalui CIA, mengorganisasikan penyerbuan ke Kuba. Namun, berkat dukungan rakyat dan kekuatan militer, penyerbuan itu berhasil dipatahkan hanya dalam waktu 72 jam.

Paska itu, AS tak menghentikan serangannya. Mereka mengirim penyusun untuk menghancurkan pabrik-pabrik Kuba. Tahun 1961, sebuah pusat perbelanjaan di Kuba dibom. Pada tahun 1976, Kedubes Kuba di Portugal dibom. Pada tahun 1979, pesawat komersil Kuba dibom dan menewaskan 73 orang. Pada tahun 1997, sejumlah hotel di Havana dibom. Saat ini, lima pejuang anti-teroris Kuba (sering disebut Cuban Five) ditahan dipenjara AS tanpa proses hukum.

Upaya pembunuhan terhadap Fidel Castro juga tidak sedikit. Kepada sutradara AS, Oliver Stone, Fidel mengaku telah mengalami upaya pembunuhan sebanyak 700-an kali. Berbagai cara dipakai CIA untuk membunuh Fidel: Pulpen beracun, rokok beracun, pakaian selam beracun, hingga pil sianida.

Tak hanya itu, AS juga melancarkan embargo ekonomi terhadap Kuba. Dampak mengerikan embargo ini tidak kecil. Menteri Luar Negeri Kuba, Bruno Rodriguez, mengungkapkan bahwa embargo tersebut menyebabkan perekonomian Kuba mengalami kerugian ditaksir sebesar 1,1 Triliun US dollar.

Tetapi, rupanya, semuanya itu belum cukup. Tanggal 3 April lalu, Associated Press (AP) melaporkan bahwa pemerintah AS membuat jaringan komunikasi “Twitter Kuba” untuk mendorong kerusuhan politik dan merongrong pemerintahan komunis di Kuba.

Program tersebut dinamai “ZunZuneo”, bahasa slang Kuba untuk kicauan burung kolibri, yang menargetkan kaum muda di Kuba. Tidak main-main, hanya dalam dua tahun, program ini berhasil menggaet 40.000 pelanggan di Kuba.

Program ini dijalankan oleh US Agency for International Development (USAID). Lembaga ini memang rajin menggelontorkan dana kepada kelompok oposisi di semua negara yang tidak disukai oleh AS, termasuk Venezuela dan Bolivia. Program ZunZuneo ini mendapat suntikan dana sebesar 1,6 juta US dollar dari proyek USAID yang seharusnya diperuntukkan untuk Pakistan. USAID menggunakan sejumlah perusahaan di Spanyol dan Kepulauan Cayman untuk menyembunyikan jejak uang yang dikucurkan.

AP juga melaporkan, para pengguna program komunikasi ini tidak mengetahui bahwa lembaga AS, yakni USAID, yang berkaitan langsung dengan Kementerian Luar Negeri AS, berada di balik program ini. Ironisnya lagi, program ini juga bisa mengakses informasi dari para penggunanya dan dapat dipergunakan suatu saat.

Program ini menargetkan bisa mendapat 200.000 pengguna. Cara kerja program ini juga berjenjang. Pada tahap awal, jejaring sosial ini menarik penggunanya melalui pesan tentang olahraga, musik, dan topik-topik tidak kontroversial lainnya. Kemudian, operator mulai memberikan konten politik untuk mendorong para pengguna yang ‘termakan’ untuk mengorganisir aksi spontan, semacam “Cuba Spring”, sebagaimana terjadi di Timur Tengah.

Namun, menanggapi laporan AP itu, pihak Gedung Putih menyangkal kalau program itu adalah “operasi rahasia”. “Dugaan bahwa ini program rahasia adalah salah,” kata Carney. Menurut dia, Amerika mengambil langkah “berhati-hati” ketika beroperasi dalam “lingkungan yang tidak bebas” seperti Kuba, untuk melindungi orang-orang yang terlibat dalam program itu dan masyarakat umum.

Hal senada juga disampaikan oleh Juru Bicara USAID, Matt Herrick. Menurutnya, tujuan dari proyek ZunZuneo adalah menciptakan sebuah platform bagi warga Kuba untuk berbicara bebas di antara mereka sendiri. “Pada tahap awal, para penerima (proyek) mengirim berita teknologi, skor olahraga, cuaca, dan hal-hal sepele untuk membangun minat dan menyatukan warga Kuba. Setelah itu, warga Kuba dapat berbicara di antara mereka sendiri, dan kami bangga akan hal itu,” terangnya.

Namun, dari sejumlah wawancara dan dokumen 1000 halaman yang ditumukan oleh AP, jelas bahwa USAID berhati-hati untuk menyembunyikan kaitan dengan Washington dalam proyek tersebut. “Jangan pernah menyebutkan keterlibatan Pemerintah AmerikaSerikat,” bunyi sebuah memo tahun 2010 dari Mobile Accord Inc, salah satu pencipta proyek itu. “Hal ini sangat penting bagi keberhasilan jangka panjang layanan dan untuk memastikan keberhasilan misi.”

ZunZuneo mulai berjalan tak lama setelah penangkapan kontraktor AS, Alan Gross (63 tahun), di Kuba pada Desember 2009. Gross akhirnya dijatuhi hukuman 15 tahun penjara karena mengunduh jaringan internet di bawah program rahasia AS. Pemerintah Kuba menganggap hal itu sebagai subversif.

USAID mengklaim program ZunZuneo sudah berakhir pada September 2012. Namun, pemerintah Kuba menuding, sebagaimana diungkapkan media Liga Pemuda Komunis Kuba, Juventud Rebelde, pemerintah AS telah menciptakan program lain selain ZunZeno.

Salah satunya adalah Kantor Penyiaran Kuba (OCB), yang mengirim sinyal radio dan TV masuk ke Kuba. Salah satu program OCB adalah Radio dan TV Marti–mencoleng nama pahlawan pahlawan Kemerdekaan Kuba, Jose Marti.

Juventud Rebelde juga menyebut adanya sebuah program yang disebut  Piramideo, yang juga mendorong para penggunanya dalam jaringan pertemanan dan mengirimi mereka “SMS” massal.

“Strategi ini, bukan hanya untuk mencuri sumber daya di Kuba, tetapi juga berusaha menciptakan saluran komunikasi antara kelompok kecil kaum kontra-revolusioner di Kuba,” tulis koran itu.

Tak hanya itu, melalui Piramideo, mereka mencoba mengilusi para pengrajin dan seniman Kuba dengan tawaran iklan dengan harga rendah atau gratis.

Juventud Rebelde menuding USAID mendanai berbagai program untuk menggoda pemuda Kuba dengan menawarkan musik, film, chatting dan permainan online.

Kaum muda Kuba memang sedang sasaran bidik rayuan AS. Kelompok usia muda ini dianggap sudah terputus dengan generasi revolusi 1959 dan lahir di tengah-tengah krisis yang melanda ekonomi Kuba pasca bubarnya Uni Soviet di tahun 1990-an.

Dengan menjual mimpi tentang “pergaulan modern”, AS berharap bisa mengarahkan pemuda Kuba untuk tidak puas terhadap keadaan dan kemudian bergerak menuntut perubahan.

Pengguna jejaring sosial di Kuba sendiri tumbuh pesat setelah pemerintah membuka 145 kafe internet. Selain itu, pengguna telpon seluler bisa mengecek email mereka melalui domain @nauta.cu. Sementara pengguna telpon seluler mencapai 2 juta orang dari 11,2 juta penduduk Kuba.

Mungkin, dalam urusan teknologi informasi, Kuba agak terbelakang. Tetapi pembangunan manusia di Kuba berkembang pesat. Sektor pendidikan dan kesehatan Kuba mendapat pengakuan dunia [Lihat fakta tentang pendidikan Kuba di sini]. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kuba menempati peringkat 59 pada tahun 2013.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut