Arti Penting Mudik

Betapa bangganya bangsa ini punya tradisi yang disebut “Mudik”. Tradisi ini membawa keuntungan sosial-budaya dan ekonomi. Pemerintah pun dipaksa untuk turun tangan memastikan proses mudik ini berjalan lancar dan aman.

Ada jutaan rakyat Indonesia yang terlibat tradisi ini. Tahun ini, setidaknya ada 16 juta rakyat Indonesia yang turut mudik. Ini merupakan mobilitas penduduk dalam jumlah sangat besar.

Bayangkan, jika seorang pemudik mengantongi Rp 5 juta, maka jumlah uang yang mengalir dari “pusat-pusat ekonomi” ke “kampung” bisa mencapai Rp80 trilyun. Ini memang masih hitungan kasar. Belum lagi, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang mudik dan membawa tabungannya selama bertahun-tahun.

Dalam ekonomi, mungkin fenomena itu bisa disebut “redistribusi ekonomi”. Kita tahu, model pembangunan di Indonesia menciptakan ketidakadilan yang luar biasa. Tidak hanya ketidakadilan dalam distribusi pendapatan antar penduduk, namun juga ketimpangan dalam pembangunan antar daerah.

Tradisi mudik membuat terjadinya sedikit redistribusi ekonomi. Orang-orang di “kampung” akan mendapat suntikan modal baru. Atau, ini akan memicu penaikan kemampuan konsumsi orang-orang di kampung: memperbaiki rumah, membeli barang elektronik, pakaian baru, makanan, minuman, dan lain-lain. Mudik juga akan menggerakkan aktivitas ekonomi daerah-daerah yang dilaluinya: transportasi, perdagangan, jasa penukaran uang, dan lain-lain.

Tradisi mudik juga mendorong perbaikan infrastruktur: jalan raya, jembatan pelabuhan, rel kereta api, bandara udara, dan lain-lain. Biasanya pemerintah agak lamban atau kurang perhatian untuk memperbaiki infrastruktur. Nah, tradisi mudik ini memaksa pemerintah untuk melakukan perbaikan infrastruktur.

Disamping manfaat ekonomis itu, tradisi mudik juga membawa dampak sosial-budaya. Para pemudik kembali ke kampung halaman dengan membawa tradisi-tradisi baru yang dikenalnya di perantauan. Kaum urban di kota, yang menyerap informasi lebih banyak ketimbang di desa, bisa menyebarkan “pengetahuan-pengetahuan baru” kepada masyarakat desa. Tak sedikit pemudik yang datang membawa teknologi baru dari kota. Teknologi baru itu berkontribusi untuk mendorong kemajuan di daerah pedesaan.

Tetapi, ada juga yang mengatakan, kebudayaan para pemudik—yang dekat dengan individualisme dan konsumtifisme—menggusur kebudayaan gotong-royong dan tolong-menolongisme di desa-desa. Katanya, para pemudik itu berkontribusi memperkenalkan “pengupahan” terhadap pada beberapa pekerjaan yang dulunya dilakukan secara sukarela.

Sayangnya, meski sudah menjadi tradisi tahunan, perhatian pemerintah terhadap para pemudik belum maksimal. Para pemudik harus “kekeringan kantong” karena membayar mahal biaya angkutan. Sudah begitu, para pemudik harus berhadapan dengan kondisi transportasi yang buruk dan tak memadai. Tentu saja hal itu menggangu kenyamanan para pemudik.

Seharusnya pemerintah bekerja keras untuk menyiapkan sistim transportasi massal, modern, dan murah. Selain itu, faktor keamanan bagi pemudik mestinya menjadi perhatian pemerintah. Tidak hanya itu, THR para pekerja mesti diperhatikan. Sebab, itulah modal mereka untuk mudik dan berlebaran.

Tradisi mudik mestinya bisa dikelola oleh pemerintah sehingga makin efektif dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut