Arianto Sangaji: Tiga Kontradiksi Dalam Industri Kapitalis Berbasis Sumber Daya Alam

“Dalam proses akumulasi kapital, yang menjadi jantungnya sistem kapitalisme, selalu mengisyaratkan penghancuran atau pengrusakan sosial dan ekologi.”

Pendapat di atas ditegaskan oleh Arianto Sangaji, kandidat PhD Department of Geography di York University Toronto, Kanada, dalam diskusi bertajuk “PP nomor 1/2014 versus Kepentingan Nasional” di kantor KPP-PRD, Kamis (13/2/2013).

Dalam diskusi tersebut, Arianto mengidentifikasi ada tiga kontradiksi mendasar dalam sistem produksi kapitalis, terutama industri yang berbasis sumber daya alam (resources-based industries).

Pertama, kontradiksi antara proses akumulasi kapital dengan praktik-praktik ekonomi non-kapitalis berbasis sumber daya alam (SDA). Dia mencontohkan, ketika ada perusahaan tambang yang memasuki wilayah atau ruang tertentu, maka yang pertama sekali dihancurkan adalah sistem produksi non-kapitalis, seperti petani, masyarakat adat, dan sistem produksi subsisten lainnya.

Dalam proses itu, lanjut Arianto, industri kapitalis berbasis SDA akan melakukan perampasan langsung terhadap lahan-lahan pertanian milik petani tradisional. Selain itu, pembukaan hutan, pembuatan jalan, dan pengupasan tanah tertutup juga akan memporak-porandakan hubungan produksi non-kapitalis.

Namun, Arianto menambahkan, selain melalui perampasan lahan, penghancuran terhadap hubungan produksi non-kapitalis, seperti pertanian, juga terjadi melalui bencana alam yang ditimbulkan oleh aktivitas pertambangan.

“Biasanya, aktivitas pertambangan itu berlangsung di hulu, sementara kegiatan pertanian warga itu di bagian hilir. Jadi, ketika musim hujan tiba, maka banjir akan menerjang pertanian warga,” terangnya.

Yang kedua, kontradiksi antara proses akumulasi kapital dengan lingkungan hidup. Dalam corak produksi kapitalis, kata Arianto, lingkungan hidup hanya ditempatkan sebagai salah satu sumber daya dan sekaligus ruang untuk membuang limbah.

“Jangan heran, proses akumulasi kapital akan berjalan pararel dengan proses degradasi serius terhadap lingkungan,” katanya.

Ia mengeritik cara pandang kaum ekologis liberal yang memandang kerusakan ekologi sebagai sesuatu yang eksternal. Sebaliknya, bagi Arianto, penghancuran ekologis dalam sistem produksi kapitalis adalah bersifat internal. Maksudnya, di dalam proses akumulasi kapital, yang menempatkan lingkungan hidup hanya sebagai sumber bahan baku, proses penghancuran lingkungan hidup merupakan syarat mutlak untuk terjadinya proses akumulasi keuntungan.

Arianto mencontohkan pada pertambangan nikel laterite. Karakter penambangan nikel laterite adalah melalui metode opencast, yakni teknik penambangan di lapisan permukaan tanah melalui pengerukan kandungan mineral dengan memisahkannya dengan tanah.

“Dengan menggunakan metode opencast mining, maka penambang nikel laterite secara langsung merusak lingkungan, karena mengharuskan pembongkaran hutan, penggalian tanah, dan pembuangan tanah” ujarnya.

Yang ketiga, kontradiksi antara proses akumulasi kapital dengan tenaga kerja, yang esensinya adalah eksploitasi kelas oleh kelas kapitalis terhadap kelas pekerja. Di sini, Arianto–yang mengutip filsuf Jerman, Karl Marx–membagi dua kategori pekerja. Pertama, pekerja aktif (active army), yakni mereka yang saat ini sedang dieksploitasi oleh kapitalis dalam sistem produksi kapitalis. Kedua, tenaga kerja cadangan (reserve army of labour) atau kelebihan penduduk relatif.

“Dalam kapitalisme, kelas pekerja upahan yang sedang bekerja tidak bisa dipisahkan dengan lautan manusia yang sedang tidak bekerja. Sebab, kelas kapitalis selalu mengeksploitasi pekerja aktif dengan mengkalkulasi tenaga kerja cadangan. Semakin banyak tenaga kerja cadangan, semakin tinggi tingkat eksploitasi kapitalis terhadap pekerja aktif,” terangnya.

Menurut Arianto, dalam industri pertambangan, yang umumnya padat modal, kelas kapitalis menggunakan teknologi untuk menghemat tenaga kerja dalam proses produksi. Dengan demikian, tenaga kerja cadangan melimpah dalam jumlah besar. Dan berarti pula: eksploitasi terhadap pekerja aktif sangat intensif

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • sadikingani

    Opini menarik untuk diskusi di atas kertas.