Argentina Tolak Perintah Pengadilan AS Untuk Bayar Utang

Pada hari Senin, 16 Juni lalu, Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) mengeluarkan putusan yang menjerat leher rakyat Argentina, yakni mengharuskan Argentina membayar utang kepada para investor yang menolak program restrukturisasi.

Keputusan itu sangat menguntungkan perusahaan hedge funds, seperti NML, Aurelius, Blue Angel, yang berusaha mengeruk keuntungan dari krisis utang yang melanda Argentina di tahun 2001.

Lebih parah lagi, Mahkamah Agung AS memberi kesempatan kepada para perusahaan hedge funds tersebut untuk mencari informasi terkait aset Argentina di luar negeri guna disita sebagai ganti pembayaran utang tersebut.

Presiden Argentina, Christina Fernandez, langsung merespon keputusan pengadilan AS tersebut. Ia menyebut keputusan pengadilan tersebut sebagai bentuk ‘pemerasan’. “Apa yang tidak boleh kulakukan sebagai Presiden adalah menyerahkan negeriku untuk diperas,” kata Fernandez.

Fernandes juga bilang, “tidak masuk akal dipaksa memperuntukkan setengah dari cadangannya hanya untuk pembayaran utang.” Tak hanya itu, ia menganggap keputusan memaksa Argentina untuk membayar kepada hedge funds ini sebagai ‘kejahatan terorganisir’.

Jumlah utang yang harus dibayarkan oleh Argentina kepada para penggugat mencapai 1,5 milyar USD. Yang dikhawatirkan Argentina, keputusan pengadilan ini akan memicu tuntutan para kreditor lain untuk menuntut pembayaran utang serupa yang nilainya mencapai 15 milyar USD. “Ini bukan hanya absurd, tetapi juga tidak masuk akal karena nilai itu mewakili setengah cadangan mata uang asing di Bank Sentral,” kata Fernandez.

Fernandez menekankan komitmen pemerintahannya untuk tetap membayar kewajiban utangnya kepada para pemegang surat obligasi. “Ini adalah kewajiban kami untuk bertanggung-jawab terhadap kreditor kami, tetapi tidak menjadi korban pemerasan dari spekulator,” tegasnya.

Untuk diketahui, pada tahun 2001, akibat ulah para spekulan dan raksasa finansial, Argentina nyaris bangkrut. Negara berjulukan ‘negeri Tango’ itu mengalami gagal bayar surat utang senilai 95 miliar dollar.

Pada saat itulah para kreditor asing berusaha mengambil keuntungan dari penderitaan rakyat Argentina. Mereka membeli utang-utang Argentina dengan harga sangat murah. Biasanya mereka membeli dengan harga hanya 20% dari harga aslinya. Mereka berharap, ketika ekonomi sudah membaik, mereka bisa memaksa negara debitur untuk membayar utang itu plus bunganya.

Pada tahun 2003, ketika Nestor Kichner berkuasa, Argentina menawarkan obligasi baru untuk membayar 30 sen untuk setiap dollar utang yang gagal bayar itu. Saat itu, 90 % pemegang surat obligasi menyetujui usulan tersebut. Kemudian, pada tahun 2005 dan 2010, Argentina kembali mengajukan negosiasi dengan para kreditor itu.

Namun, ada sejumlah kreditor yang ngotot menolak tawaran itu, seperti NML, Aurelius Capital Management Inc, Blue Angel, dan lain-lain. Mereka tetap menuntut pembayaran 100% plus bunga. Tak hanya itu, mereka menggunakan jalur pengadilan untuk mewujudkan keinginan itu.

NML adalah anak perusahaan hedge fund Elliot Associates, yang dimiliki oleh miliarder pendukung Mitt Romney, Paul Singer. Perusahaan ini sangat agresif menggunakan jalur pengadilan guna memaksa Argentina membayar 1,3 milyar USD yang diklaim pinjamannya. Dan, pada tahun 2012 lalu, pengadilan AS memenangkan tuntutan mereka. Saat itu, sebuah kapal Argentina yang sedang berlabuh di Ghana ditahan sebagai sandera untuk tuntutan itu.

Namun, pemerintah Argentina tetap bergeming. Mereka hanya mau bernegosiasi, tetapi tidak mau diperas oleh para investor spekulator itu.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut