Argentina Tolak Bayar “Utang Kolonial”

Inilah bentuk mutakhir dari kolonialisme saat ini. Pekan lalu, pengadilan Amerika Serikat (AS) memerintahkan Argentina untuk membayar utangnya kepada kreditor asing sebesar 1,3 miliar dollar AS (Rp 12,5 triliun).

Kurang ajarnya lagi, pengadilan AS itu memberi batas waktu pembayaran utang itu hanya hingga tanggal 15 Desember 2012. Jika Argentina mematuhi keputusan itu, maka mereka akan terjerembab kembali dalam krisis utang dan terancam bangkrut.

Ini merupakan persekongkolan keji terhadap Argentina. Pada tahun 2001, akibat ulah spekulan dan raksasa finansial, Argentina nyaris bangkrut. Negara itu mengalami gagal bayar gagal bayar surat utang senilai 100 miliar dollar (Rp 963 triliun).

Pada saat itu, segelintir kreditor asing berusaha mengambil keuntungan di atas penderitaan rakyat Argentina. Orang menyebutnya “dana burung bangkai”. Jadi, kreditor hanya menunggu perusahaan, juga negara, yang terancam bangkrut dan membeli utang-utangnya. Itupun dengan harga sangat murah—kadang-kadang hanya 20% dari nilai nominalnya.

Salah satu kreditor pemain di Argentina adalah NLM, anak perusahaan hedge fund Elliot Associates, yang dimiliki oleh miliarder pendukung Mitt Romney, Paul Singer. NLM ikut berspekulasi atas utang Argentina. Mereka kemudian berjudi dan kalah. Akibatnya, beberapa jutawan di belakang mereka terancam kehilangan uang.

Pada tahun 2003, Argentina sendiri mendorong para kreditor untuk melakukan negosiasi pengurangan utang. Nah, si perusahaan bandit NLM ini menolak terlibat dalam negosiasi. Sebaliknya, mereka menggunakan jalur mengadilan untuk memburu-buru Argentina agar membayar utang.

Akhirnya, pada Oktober lalu, sebuah kapal Angkatan Laut Argentina yang sedang berlabuh di Ghana tiba-tiba disita. Lalu, pada pekan lalu, pengadilan AS tiba-tiba mengambil keputusan memaksa Argentina membayar utang dana vulture itu.

Tetapi, pemerintah Argentina punya martabat. Mereka pasang badan untuk melindungi kedaulatan bangsa dan kepentingan rakyatnya. Menteri Keuangan Argentina, Hernán Lorenzino, menuding pengadilan AS itu sebagai “pengadilan kolonial”.

Senada dengan itu, Presiden Argentina Cristina Fernandez de Kirchner menyatakan bahwa negaranya tak sudi membayar satu dollar pun untuk utang kolonial itu. Ia juga menuding pengadilan AS itu bahkan tidak faham Undang-Undang.

Ia bilang, Argentina tidak akan menjadi budak atau bawahan siapapun. “Kami negara bebas, dengan martabat dan kebanggaan nasional kami,” katanya.

Meski demikian, persekongkolan jahat pun segera menyudutkan Argentina. Lembaga pemeringkat Standard & Poor’s dan Fitch Ratings langsung menurunkan peringkat kredit argentina. Selain itu, Argentina juga diancam akan diisolasi dari sistem keuangan global. Tak hanya itu, Argentina terancam mengalami destabilisasi ekonomi.

Keputusan pengadilan AS sangat kurang ajar. Pertama, tidak ada pembenaran etis bagi Argentina untuk membayar utang itu. NLM tidak pernah memberikan pinjaman tunai kepada Argentina. Mereka hanya berspekulasi atas krisis Argentina, dengan membeli utang Argentina dengan harapan bangkrut, tanpa memperhitungkan penderitaan rakyat Argentina.

Kedua, keputusan pengadilan itu menyamakan negara Argentina dengan perusahaan. Mereka gagal memahami, kalau Argentina dipaksa membayar utang haram itu, rakyat Argentina yang akan dikorbankan. Lagipula, utang itu bukan kehendak negara dan bangsa Argentina. Melainkan permainan kreditur dan negeri-negeri imperialis.

Ketiga, sebagian besar utang Argentina itu adalah hasil persekongkolan keji antara kreditur, termasuk negeri-negeri imperialis, dengan rejim atau penguasa korup di Argentina di masa lalu. Utang itu dipinjamkan untuk membangun sebuah kediktatoran keji dan brutal di tahun 1970-an. Junta militer ini menumpuk utang lantaran membeli persenjataan militer ke Inggris untuk dipakai menindas rakyat Argentina. Lalu, sebagian utang itu didapat melalui perjanjian sepihak antara IMF dan rejim neoliberal Argentina. Rakyat Argentina tidak pernah terlibat untuk memutuskan apakah menyetujui atau tidak utang-utang itu.

Pada bulan Juli 2010, hakim federal Jorge Ballester memutuskan bahwa seluruh utang Argentina berasal dari 177 kesepakatan penuh penipuan dan sewenang-wenang. Peraih nobel, Adolfo Pérez Esquivel, menganggap utang-utang itu tidak sah.

Argentina adalah korban kekejian kolonialisme. Utang Argentina adalah produk keji dari arsitektur keuangan global yang mengesahkan perampokan. Karena itu, menjadi kewajiban kita untuk bersolidaritas kepada rakyat Argentina. Don’t cry for Argentina, bangkitlah melawanlah!

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut