API Kartini: 107 Tahun Harkitnas, Perempuan Masih Tertinggal

API Kartini (2)

Kendati peringatan Hari Kebangkita Nasional (Harkitnas) sudah memasuki ke-107 tahun, namun kondisi kaum perempuan Indonesia sebagai bagian dari warga negara di Republik ini masih tertinggal jauh di belakang.

Demikian penegasan Ketua Umum Aksi Perempuan Indonesia (API) Kartini, Minaria Christyn Natalia S, melalui siaran pers untuk memperingati Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-107, Rabu (20/5/2015).

Minaria menceritakan, hingga sekarang ini masih ada 6,5 juta orang perempuan yang buta-huruf. Mayoritas diantara mereka adalah perempuan berusia 40 tahun ke atas.

“Kalau mereka buta huruf, bagaimana mereka bisa mengaktualisasikan diri sebagai warga negara. Bagaimana mereka bisa faham hak dan kewajibannya,” ujar Minaria.

Lebih lanjut, kata Minaria, situasi itu diperkeruh oleh fakta banyaknya perempuan yang tidak bisa mengenyam bangku sekolah atau dipaksa putus sekolah karena faktor ekonomi dan sosial-budaya.

“Selain faktor sosial-budaya, yakni patriarki, yang menghalangi perempuan mengenyam pendidikan, faktor kemiskinan juga sangat berpengaruh,” terangnya.

Minar juga menyoroti faktor kemiskinan yang melempar banyak perempuan sebagai buruh migran dengan pekerjaan utama sebagai pekerja rumah tangga (PRT).

Menurutnya, hal mendasar yang membuat ketertinggalan tersebut adalah sistim ekonomi-politik yang sangat neoliberal. “Neoliberalisme sangat memiskinkan perempuan. Neoliberalisme juga melanggengkan patriarki,” tegasnya.

Karena itu, dalam peringatan Harkitnas ini API Kartini mendesak pemerintahan Jokowi-JK untuk konsisten menjalankan Trisakti sebagai jalan untuk menegakkan kemerdekaan nasional yang sejati.

“Janji kemerdekaan adalah masyarakat adil dan makmur, termasuk kaum perempuan di dalamnya,” kata Minaria.

API Kartini juga mempertanyakan komitmen Jokowi-JK dalam memajukan kaum perempuan secara ekonomi, politik, dan sosial-budaya. Tidak hanya itu, organisasi perempuan yang resmi berdiri pada Desember tahun lalu ini juga mengecam berbagai bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang berlangsung hingga hari ini.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut