Apa Kata Mereka Tentang Hari Buruh?

Saat peringatan Hari Buruh Sedunia lalu (1/5), Berdikari Online berusaha mewancari sejumlah buruh yang menggelar aksi, tentang pendapat mereka tentang Hari Buruh itu sendiri dan kaitannya dengan persoalan-persoalan mereka.

DAHLIA YUNI, Buruh di Kawasan Berikat Nusantara (KBN) Cakung
Hari Melawan Kapitalisme Neoliberal

Bagi Dahlia Yuni, 33 tahun, hari Buruh sedunia merupakan tempatnya kaum buruh menyuarakan perlawanan terhadap kapitalisme neoliberal. “Kami datang ke sini untuk melawan kapitalisme neoliberal,” ujar buruh di salah satu perusahaan Korea ini.

Tetapi, Dahlia sendiri mengaku belum begitu faham apa itu neoliberalisme. Ia hanya tahu kata itu dari sebuah diskusi dan selebaran yang disebarkan.

Meskipun begitu, Dahlia mengaku mengikuti aksi hari buruh karena murni keinginannya, bukan paksaan siapapun. “Saya hendak memperjuangkan agar sistim kerja kontrak dan outsourcing segera dihapuskan,” katanya dengan nada tegas.

Menurunya, akibat status kerja kontrak, banyak buruh yang diberhentikan menjelang akhir tahun supaya tidak mendapat tunjangan hari raya (THR).

SUMTARINI, buruh asal Jawa Tengah
Kesempatan Memperjuangkan Kenaikan Upah

Keterpurukan ekonomi benar-benar memukul kesejahteraan kaum buruh. Dengan berbagai kesulitan ekonomi yang dihadapi sekarang, kaum buruh menuntut agar ada kenaikan upah yang signifikan.

Itulah yang mendorong Sumtarini, 43 tahun, yang mengaku berasal dari Jawa Tengah, untuk mengikuti aksi Hari Buruh Sedunia. Dia bekerja di sebuah perusahaan Korea di KBN Cakung. Penghasilannya setiap bulan dirasa belum bisa menutupi pemenuhan kebutuhan dasar keluarganya.

“Sekarang ini kita seperti gali lubang tutup lubang. Begitu upah kita sudah dibayarkan, maka semuanya langsung habis dipakai bayar pinjaman dan lain-lain,” kata ibu dari dua anak ini.

Beban terberat bagi Sumtarini adalah membiayai sekolah anak-anaknya. Anaknya yang kedua, Dedi Wahyudi, membutuhkan dana besar selepas tamat dari SD. “Anak saya gagal masuk negeri, maka pilihannya swasta yang sangat mahal,” katanya.

Beruntung, anaknya yang pertama, Rianto, bisa disekolahkan oleh neneknya di kampung halaman di Cepu, Jawa Tengah. Dengan begitu, Ia hanya dipusingkan untuk mencari biaya sekolah bagi Dedi.

Selain itu, Sumtarini mengaku bahwa banyak karyawan di tempat kerjanya yang tidak ditanggung dalam Jamsostek. “Kebutuhan operasi dan obat-obatan ditanggung sendiri oleh para buruh,” katanya mengeluh.

Sumtarini pun berharap agar perjuangan Hari Buruh Sedunia menghasilkan kenaikan upah. “Kalau bisa upahnya naik di atas 2 juta perbulan. Jadi, kalaupun mengutang, tidak terlalu banyak,” ujarnya.

ULI HERAWATI SANIK, anggota GSPB Bekasi
Butuh Dukungan Media Massa

Penindasan melalui outsourcing sangat dirasakan kaum buruh. Meskipun sudah berkali-kali melawan, pemerintah masih jarang mendengar keluhan itu. “Outsourcing itu sangat menindas,” kata Uli Herawati, 48 tahun, buruh asal Bekasi.

Dengan aksi Satu Mei, buruh punya kesempatan untuk menjelaskan persoalan outsourcing kepada pemerintah. Tetapi, menurut Uli Herawati, lewat aksi massa saja belum cukup, tetapi perlu adanya dukungan media massa.

Ia pun merasa sangat kecewa dengan sikap Presiden SBY yang bukannya menyambut gerakan buruh, malah menginstruksikan siaga satu saat peringatan Hari Buruh Sedunia. “Itu kan berarti kaum buruh siap ditembak kalau ada masalah,” katanya.

NASRUDDIN, buruh asal Bekasi
Gusdur Masih Lebih Baik

Ketika pemerintahan Megawati Sukarnoputri mengesahkan UU nomor 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan, sebagian besar kaum buruh pun sangat kecewa. Tidak terkecuali Nasruddin, 25 tahun, yang bekerja di perusahaan produsen penyedap rasa di Bekasi.

Ia makin kecewa ketika Presiden SBY berkuasa, lantaran lebih ganas dalam menindas kaum buruh. “Sekarang ini tidak ada perubahan sama sekali terhadap nasib buruh,” katanya mengeluh.

Nasruddin pun lebih senang dengan era pemerintahan Gusdur. Menurutnya, pemerintahan Gus Dur sangat jarang mengeluarkan kebijakan yang menindas kaum buruh. “Jaman itu belum ada UU nomor 13 tahun 2003 tentang ketenagakerjaan,” tegasnya.

MUHAMMAD SAID, pekerja Informal asal Cirebon
Mengetahui Hari Buruh Dari Koran

Di sela-sela aksi puluhan ribu kaum buruh di sepanjang Bundaran HI hingga Istana Negara, hadir pula sejumlah orang yang hanya menonton. Sebetulnya, mereka bukan mau sekedar jadi pentonton, tetapi sebagian ingin sekali bergabung.

Muhammad Said, 38 tahun, misalnya, mengaku mengetahui adanya Hari Buruh Sedunia melalui koran. Ia pun berangkat dari tempat tinggalnya di Kampung Melayu menuju Bundaran HI untuk menyaksikan aksi massa kaum buruh itu.

“Saya ingin sekali bergabung, tetapi takut dituduh provokator,” katanya dengan senyum tipis tersungging. Ia pun hanya memilih menjadi penonton saja di pinggir jalan.

Mantan buruh industri rumah tangga ini mengaku sangat senang jika kaum buruh bisa bersatu melawan penindasnya. “Dulu, saya bekerja hanya dibayar 400 ribu perbulan. itu penindasan, mas. Saya memilih keluar dan bekerja serabutan,” katanya. (Agus Pranata)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut