Apa Kata Media Amerika Latin ini Soal Sukarno?

Tanggal 21 Juni lalu, tepat 46 Tahun wafatnya Sukarno, teleSUR membuat ulasan singkat mengenai Bapak Bangsa Indonesia itu.

Jaringan televisi Pan Amerika Latin itu menyebut Sukarno sebagai seorang revolusioner dan pemikir kiri terkemuka. Media yang bermarkas di Caracas, Venezuela, ini juga menyebut Sukarno berjuang untuk dunia baru tanpa kolonialisme dan imperialisme.

“Perjuangan diplomatik dan bersenjata, yang kemudian disebut revolusi nasional Indonesia, merupakan kejadian pertama dari sekian aspirasi Sukarno tentang dunia tanpa kolonialisme dan imperialisme,” tulis media berhaluan kiri ini.

teleSUR juga menyinggung kiprah Sukarno dalam menggagas Konferensi Asia-Afrika (KAA) 1955. Konferensi itu menyatukan negara-negara selatan untuk melawan neokolonialisme.

“Kita di masa lampau itu adalah bangsa-bangsa yang tak terpandang di mata orang, adalah bangsa-bangsa, tentang siapa orang lain, yang kepentingannya maha-besar, memutuskan segala sesuatu, adalah bangsa yang hidup dalam lembah kemiskinan dan kehinapapaan. Lalu bangsa-bangsa kita minta, tidak, berjuang untuk kemerdekaan, dan memperoleh kemerdekaan, dan dengan kemerdekaan itu datanglah tanggung jawab.”

Itulah seuntai isi pidato Sukarno di pembukaan KAA 1955, yang berjudul Lahirkanlah Asia Baru dan Afrika Baru, yang dikutip oleh teleSUR.

Lebih lanjut, teleSUR juga menukilkan kontribusi Sukarno dalam menggagas Gerakan Non-Blok (GNB), sebuah aliansi negara-negara di luar Blok Barat dan Blok Soviet yang menyatu di atas prinsip saling menghormati kemerdekaan nasional, menentang segala bentuk agresi, anti-kolonialisme dan anti-imperialisme, dan menentang segela bentuk diskriminasi.

Politik Sukarno yang menasionalisasi perusahaan asing, kedekatannya dengan Soviet dan Tiongkok, juga ambisinya untuk mempersatukan kaum nasionalis, agamais, dan komunis di bawah panji-panji Nasakom, telah membuat Washingtong bergidik. Dan inilah alasan utama AS/CIA menjalankan berbagai usaha untuk menggulingkan pemerintahan Sukarno.

Dan momentumnya adalah peristiwa G 30 S 1965. Gerakan segelintir militer progressif itu, yang dirancang sebagai kontra-kudeta terhadap Sukarno, telah menjadi dalih bagi militer dan sayap kanan Indonesia—dengan sokongan CIA/AS di belakangnya—untuk menghabisi PKI dan Sukarno.

“Dengan bantuan ekonomi, teknis, dan militer dari CIA, dibantu perang psikologis dan operasi rahasia Inggris, Suharto memulai pemburuan massal anggota PKI dan simpatisannya. Dikenal sebagai “banjir darah” terbesar di abad ke-20, yang menewaskan hampir 3 juta orang, menandai kemenangan Washington atas komunisme,” tulis teleSUR.

Usai pembantaian massal kaum komunis itu, Suharto kemudian pelan-pelan melengserkan Sukarno. Banyak sejarawan menyebutnya sebagai “kudeta merangkak”.

“Kekuasaan Sukarno berakhir di tahun 1966 melalui kudeta militer oleh Suharto, yang membangun kediktatoran militer pro-barat hingga tahun 1998.”

Ulasan teleSUR ini merupakan bentuk apresiasi dunia, terutama Amerika latin, terhadap perjuangan dan cita-cita Sukarno. Sekaligus bukti bahwa Sukarno bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga milik dunia. Dia tidak hanya menginspirasi perjuangan bangsa Indonesia, tetapi juga bangsa-bangsa tertindas di seluruh dunia.

Untuk diketahui, teleSUR adalah media Amerika Latin yang bercita-cita menyatukan seluruh bangsa-bangsa Selatan. Sejak tahun 2005, teleSUR hadir dalam bentuk jaringan televisi dan media online (berbahasa Spanyol dan Inggris).

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut