Anwar Ibrahim: Demokrasi Butuh Kesadaran Rakyat Yang Meluas

Mantan Wakil Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim, memuji proses transformasi demokrasi di Indonesia. Namun, menurutnya, proses demokratisasi itu tidak semata soal lambang-lambang dan institusi belaka.

“Demokrasi itu bisa tegak jikalau ada kehendak massa rakyat,” kata Anwar Ibrahim saat menyampaikan pidato kebudayaan di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Senin (30/1/2012) malam.

Dengan meminjam istilah pemikir Brazil, Paulo Freire, 30 tahun yang lalu, Anwar menggaris-bawahi perlunya “concientizacao”, yakni kesadaran rakyat untuk melakukan agenda perubahan.

Karena itu, menurut Anwar, tugas gerakan pro-demokrasi adalah menciptakan jenis demokrasi seperti yang ditulis oleh pemikir politik Perancis, Alexis de Tocqueville, dalam karya berjudul Democracy in America, yaitu demokrasi habits of the heart.

“Ini adalah suatu situasi dimana rakyat menganggap kebebasan dan demokrasi itu mutlak ada. Dan, itu dirawat oleh rakyat secara sadar,” kata Anwar.

Dari situ, kata Anwar, ada keinginan menyeluruh dari massa rakyat untuk menuntut kedaulatan dan keadilan. Dengan begitu, rakyat akan terus menolak segala bentuk ketidakadilan dan kezaliman.

Dalam konteks Indonesia, sekalipun ada kritik dan suara-suara sinis, tetapi proses demokratisasi yang sedang berjalan wajib untuk diteruskan.

“Proses perubahan di Indonesia sangat penting dalam gejala paling mutakhir di dunia,” kata pemimpin oposisi Malaysia ini.

Berbeda dengan Irak yang disertai pendudukan militer, proses demokrasi di Indonesia, katanya, lahir dari kehendak dan gerakan massa rakyat.

Anwar juga mengaku mengagumi banyak pemikir Indonesia, seperti Muhammad Natsir, Soedjatmoko, dan Sutan Takdir Alisjahbana. Ia banyak membaca dan melahap pemikiran tokoh-tokoh itu semasa di penjara.

Lebih lanjut, politisi pengagum gagasan Mahatma Gandhi ini juga menegaskan bahwa demokrasi dan kebebasan tidak akan terwujud tanpa tercapainya keadilan di bidang politik dan ekonomi.

Anwar yakin, negeri paling miskin sekalipun, asalkan diurus dengan baik, akan sanggup menjaga kemaslahatan rakyatnya. Ia pun mengutip kata-kata Gandhi: “Earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”

Karena itu, bagi Anwar, tantangan kekuasaan yang sebenarnya adalah keserakahan (greed), yakni keserakahan kekuasaan dan keserakahan ekonomi. Karena itu, katanya, kekuasaan perlu dikawal oleh etika dan institusi yang kuat.

Anwar, yang ketika mudanya banyak bersentuhan dengan intelektual Indonesia seperti Natsir dan Soedjatmoko, mengaku menganggap politik saat itu sebagai “low morale and uncharismatic profession”.

Anwar, yang memimpin koalisi Pakatan Rakyat di Malaysia, mengaku tidak mau terjebak pada label ideologi tertentu, seperti liberal, demokrat, ataupun sosialis. Tapi yang terpenting, katanya, adalah program yang benar-benar dikehendaki oleh rakyat dan sanggup dijalankan ketika berkuasa.

Anwar juga menentang gaya kepemimpinan yang konvensional, yang tunduk pada politik formal dan keprotokoleran. Baginya, model kepemimpinan yang diperlukan dewasa ini adalah gaya ‘kepemimpinan merakyat’.

Di mata Anwar, yang pernah merasakan penderitaan di dalam penjara, mengaku tugas seorang pemimpin adalah merasakan dan memihak pada penderitaan rakyat yang paling bawah atau paling miskin.

“Tidak boleh ada seorang rakyat pun, yang karena kemiskinan dan penderitaannya, terabaikan,” kata Anwar yang segera mendapat tepukan meriah dari ratusan pendengarnya di Teater Kecil TIM, di Jakarta.

Anwar Ibrahim, seperti juga Gus Dur di Indonesia, adalah pengayom dan penjaga hak-hak kaum minoritas di Malaysia, khususnya etnis Tionghoa, India, dan Bugis.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Anwar memang hebat, namun sayangnya mempunyai kelemahan dalam menghindari keinginan liarnya terhadap lawan jenis yang sejenis.