Anak-Anak Di India Ciptakan Bank Alternatif

Anak-anak di New Delhi, India, membuat gebrakan besar. Mereka telah membangun sistim perbankan sendiri. Uniknya, bank ini dikelola dan dijalankan sendiri oleh anak-anak. Nasabahnya pun adalah anak-anak.

Di sebuah tempat penampungan anak-anak di New Delhi, sebuah gagasan alternatif sedang diusung oleh anak-anak. Mereka bukan anak-anak kaum kaya. Mereka adalah anak-anak dari keluarga miskin. Sebagian besar anak jalanan.

Ram Singh, salah seorang diantara anak itu, bekerja sebagai penjual teh di luar stasiun kereta api. Nah, Ram Singh ini mendapat 1 US dollar dari 100 teh yang dijualnya. Pendapatan itulah yang ditabungnya di bank.

“saya menabung setiap hari. Berharap memulai sesuatu dari saya sendiri. Suatu hari nanti, segera,” kata Singh dengan raut muka penuh optimisme sembari melayani pembelinya di depan sebuah stasiun di New Delhi.

Salah satu bank yang dikelola anak-anak itu bernama Bank Pembangunan Anak-Anak Khazana. Bank ini pertama kali dibuka di New Delhi pada tahun 2001. Tetapi, sekarang ini, bank ini punya 300-an kantor cabang yang tersebar di Asia Selatan (India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Pakistan, Afghanistan, dan Kirgiztan).

Di New Delhi saja, bank ini punya 17 kantor cabang dan melayani ribuan anak-anak berusia 9 hingga 17 tahun. Banyak anak-anak, termasuk mereka yang kabur dari rumah dan bekerja serabutan, menyimpan uang mereka di bank ini.

Bagi mereka, menabung adalah persiapan untuk masa depan yang lebih baik. Mereka bercita-cita membangun bisnis. Tapi, diantara mereka ada juga yang mempersiapkan biaya pendidikan di masa depan.

Satish Kumar, salah seorang anak yang terpilih sebagai manajer bank, menceritakan, rata-rata anak yang menyimpan di bank adalah anak-anak yang sudah bekerja. Anak-anak yang sedang menjalankan studi juga bisa menyimpan uang mereka.

Mohammad Shah, salah seorang nasabah, mengaku sudah tiga kali mengambil simpanannya di bank ini. “pertama sekali aku mengambil 500 rupee untuk membeli seragam sekolah dan lainnya. Kedua kalinya aku mengambil karena ibuku sakit. Aku mengambil 1000 rupee untuk kebutuhan check—up ibuku. Dan ketiga kalinya aku mengambil untuk membayar uang yang dipinjam saat ayahku membuka toko,” katanya.

Tapi, bank ini juga punya aturan sendiri untuk calon nasabahnya. Mereka menolak anak-anak yang jadi pengemis atau terlibat penjualan obat-obat terlarang. “Bank ini hanya untuk anak-anak yang menghargai kerja keras,” katanya.

Namun, ada satu hal yang lebih membanggakan dari anak-anak India ini: mereka mempraktekkan bentuk demokrasi baru, yaitu demokrasi partisipatif, dalam menjalankan bank-bank itu.

Bank itu dijalankan sendiri oleh mereka. Manajer ditunjuk oleh para nasabah. Hampir semua cabang dijalankan oleh anak-anak yang menjadi nasabah. Sistimnya sederhana: para pemilik rekening menunjuk dua orang manajer di grupnya dan bekerja selama enam bulan. Manajer ini tak lebih sebagai relawan.

Sudah begitu, hampir semua keputusan diambil melalui forum diskusi. Kadang-kadang diskusi ini disertai acara makan siang bersama. Para nasabah juga mendapat pendidikan mengenai arti penting menabung bagi masa depan mereka.

Mereka juga belajar tentang transparansi dan tanggung-jawab. Seorang manajer hanya bisa memberikan uang ketika disetujui oleh anggota yang lain. Biasanya, manajer bertanya dulu kepada nasabah yang mau menarik uang: mau dipergunakan untuk apa uang itu.

Bankir-bankir dunia dan ekonom jebolan sekolah ekonomi terkemuka di barat perlu belajar pada anak-anak India ini. Sebab, bank-bank yang dijalankan anak-anak India ini bukan saja menjamin hak-hak nasabahnya, tetapi telah mentransformasi watak mereka untuk lebih bertanggung-jawab dan punya visi masa depan. Beda sekali dengan bank-bank di Eropa dan Amerika yang justru menjerumuskan dunia dalam krisis.

Ahmad Ali, penulis lepas dan pemerhati masalah sosial.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut