Ambil Apinya Kartini, Bukan Abunya!

Setiap tanggal 21 April, bangsa Indonesia memperingati kelahiran salah satu tokoh penting dalam perjuangan bangsa ini: Kartini.

Meskipun peranan dan gagasannya sangat luas, tetapi orde baru telah memiminimalkan peran sejarah dan gagasannya. Ia hanya dikenal sebagai tokoh emansipasi perempuan.

Dan, dalam setiap peringatan hari kelahirannya, orang-orang Indonesia hanya mengadakan perlombaan, mengenakan pakaian adat dan kebaya, dan kegiatan-kegiatan lainnya. Sangat sedikit usaha untuk menggali kembali pikiran-pikirannya, mengambil semangat juangnya, hingga mewarisi perjuangan Kartini dalam konteks sekarang.

Di kalangan gerakan perempuan, tidak sedikit yang mencibir Kartini dan menganggap tokoh pembaharu ini sebagai anak priayi yang cengeng.

Pengaburan Peran Kartini

Nur Fitriana, seorang aktivis dan penggiat Sanggar Wani di Jember, menganggap Kartini sebagai sosok pejuang anti-kolonial dan anti-feodalisme.

“Dia melawan Belanda, tapi tidak dengan mengangkat senjata, melainkan dengan gagasan dan pendidikan,” katanya kepada Berdikari Online.

Pendapat hampir senada juga disampaikan Tuti Widyaningrum, perempuan yang aktif di gerakan mahasiswa. “Kartini mengembangkan dekonstruksi tentang perempuan Indonesia saat itu,” katanya.

Bagi Tuti, Kartini juga banyak berbicara tentang demokrasi, kebangsaan, jurnalisme, bahasa, pengarang, dan kesenian.

Kelebihan dan keahlian Kartini ini pun banyak dielaborasi oleh Pramoedya Ananta Toer dalam karyanya “Panggil Aku Kartini Saja”. Di situ, Pram banyak menulis bagaimana Kartini menjadi seorang ahli batik, pelukis, mengerti soal musik, pengarang di majalah-majalah, mengumpulkan dongeng dan nyanyian, berbicara teori sastra, hingga soal bahasa daerah.

Desri Kurnia, aktivis perempuan yang melebur dalam gerakan petani, mengaku sangat terinspirasi oleh gagasan-gagasan Kartini. “Bayangkan, pada jaman itu, Kartini sudah bergerak maju dengan fikiran-fikirannya,” kata dia.

Desri, yang juga Sekjend Serikat Tani Riau, mengagumi Kartini karena keberaniannya memberontak dari aturan-aturan feodal, lalu melangkah pada kemanusiaan, demokrasi, dan kebangsaan.

Desi Arisanti, aktivis buruh dan sekaligus sekjend Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), mengaku mengenal sosok Kartini sejak bangku sekolah dan terutama dari tulisannya “Habis Gelap, terbitlah Terang”.

Katanya, dari buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” itu, Desi mulai memahami pentingnya perjuangan perempuan. “Boleh jadi, kalau Kartini masih hidup, ia akan bercerita tentang penindasan buruh Indonesia di bawah sistim kontrak dan outsourcing,” ujar Desi.

Pengaburan peran dan gagasan Kartini juga direkam oleh Wahida, aktivis Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI) dan anggota Partai Rakyat Demokratik (PRD). Menurutnya, ia mengenal Kartini ketika bangku sekolah dan melalui lagu “Ibu Kita Kartini”.

Dari sekian banyak tokoh perempuan yang menggugah Wahida untuk bangkit berlawan, Kartini adalah salah satunya. Selain karena berani menentang feodalisme, Wahida mengaku kagum dengan sosok Kartini yang berani bicara lantang di tengah jaman yang masih gelap.

“Ambil Apinya, bukan Abunya”

Hari Kartini memang masih dirayakan setiap tanggal 21 April. Akan tetapi, dari hampir semua perayaan yang digelar oleh instansi pemrintah maupun organisasi sosial, kebanyakan adalah perlombaan atau berpakaian tradisional.

Menurut Wahida, adalah sangat berbahaya jika hanya melihat sosok Kartini sebagai perempuan berkebaya, bukan melihat kiprah dan gagasan-gagasan perjuangannya.

“Kalau hanya memaknai Kartini dengan kebaya, itu berarti mereka hanya menangkap abunya Kartini,” kata Wahida.

Apa yang lebih penting, menurut ibu satu anak ini, adalah mewarisi “api perjuangan Kartini yang berkobar-kobar”, terutama semangat anti-kolonialisme dan keinginannya untuk memajukan bangsa ini melalui pengetahuan.

Nur Fitriana juga melihat perayaan Hari Kartini sekedar euphoria belaka, tetapi jarang sekali mengambil makna dan gagasan Kartini untuk dituangkan dalam konteks sekarang.

Di Jember, kata Nur Fitriana, ada seorang aktivis perempuan yang berusaha merespon hari Kartini dengan memperkenalkan budaya kepada bangsa-bangsa dari luar.

Dengan pertukaran budaya itu, kata Nur Fitriana, masyarakat kita bisa mengambil yang terbaik dari budaya kita dari masa lalu dan membuang yang berbau feodalistik, serta menyerap hal-hal maju atau progressif dari luar.

Sedang di mata Tuti Widyaningrum, perayaan Kartini saat ini hanya bersifat seremonial, tetapi telah lepas dari jiwa dan bagaimana memaknai perjuangan Kartini di masa sekarang.

“Saya lebih setuju jika kita merayakan Kartini sambil menelusuri kembali gagasan-gagasannya. Saya kira, gagasan Kartini masih relevan bagi anak-anak muda Indonesia saat ini,” katannya.

Khusus bagi perempuan petani dan buruh, Desri dan Desi, keduanya memang berkecimpung di sektor tersebut, menganjurkan agar kaum perempuan terlibat dalam organisasi dan memperjuangkan hak-haknya di sana.

Hanya saja, menurut Desi, organisasi bagi kaum perempuan tidak perlu dipisahkan dengan kaum laki-laki. “Kaum perempuan tidak perlu mengkotakkan perjuangannya. Karena, bagaimanapun, laki-laki dan perempuan punya tujuan untuk menghancurkan musuh yang sama, yaitu imperialisme dan kapitalisme,” tegasnya.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • roro

    Buatku Kartini adalah salah satu tokoh pejuang/pelopor pemikir pembebasan perempuan. Abad 19 di Jawa, dikurung tembok feodalisme gila, seorang perempuan muda sudah berfikir dan berseru lewat tulisan-tulisannya menolak penindasan ekonomi, kritis sekali dengan agama dan mengecam segala kebobrokan patriarkhi.Dialah KARTINI!