“Alo Presidente”: Strategi Komunikasi Chavez Dengan Rakyatnya

Mulai hari ini, 8 Januari 2012, Presiden Hugo Chavez akan memulai kembali program TV mingguan: Alo Presidente. Acara ini sudah memasuki edisi 376 dan menjadi acara TV paling populer dalam sejarah politik Venezuela.

Acara ini pertama-kali mengudara tanggal 23 Mei 1999. Awalnya, program ini muncul sebagai siaran radio yang direkam di markas  Radio Nacional de Venezuela (mirip RRI di Indonesia).

Acara ini biasanya berlangsung hari Minggu (kadang juga Kamis), sekitar pukul 09.00 pagi hingga pukul 14.00 sore. Konten acaranya pun beragama: bercerita, puisi, menari, pengumuman kebijakan negara, diskusi interaktif, dan lain-lain.

Strategi Komunikasi dengan Rakyat

Media arus utama di Venezuela dikontrol oleh sayap kanan. Sejak awal, media-media tersebut telah mengambil posisi berseberangan dengan revolusi. Bahkan media telah menjadi senjata sayap kanan Venezuela, dengan dukungan AS, untuk melakukan pembusukan terhadap pemerintahan Chavez.

Media sayap kanan juga berpartisipasi dalam berbagai usaha penggulingan Chavez, dengan memanipulasi dan menyebarkan kebohongan. Ketika sayap kanan melancarkan kudeta terhadap Chavez di tahun 2002, media-media arus utama memanipulasi keadaan. Akan tetapi, ketika rakyat turun ke jalan-jalan Caracas untuk mengembalikan kekuasaan Presiden, media-media arus utama justru menayangkan telenovela dan film kartun.

Sejak awal, Chavez sudah menyadari, untuk memperkuat demokrasi, rakyat harus diberi informasi yang sehat. Ia juga faham betul bahwa keterlibatan rakyat dalam mendukung pemerintahannya sangat bergantung dari bagaimana mereka menerima dan memahami informasi.

Selain itu, pada awalnya, Chavez juga menemukan kondisi bahwa dirinya didukung oleh birokrasi yang buruk, sehingga banyak programnya yang tersabotase dan tidak menjangkau rakyat. Dengan demikian, acara “Alo Presidente” sudah menjadi strategi komunikasi paling efektif dengan rakyat.

Dalam acara “Alo Presidente” itu, Chavez menerima dan membaca surat dari rakyatnya dari pelosok negeri. Setelah itu, ia mengomentari dan memberikan solusi secara langsung.

Menurut catatan Departemen Informasi dan Komunikasi Venezuela (MINCI), setidaknya Chavez menerima 25.000 kiriman surat dalam lima tahun. Menurut stasiun TV Negara ABN, sebagian besar surat itu dijawab Chavez saat siaran.

Selain itu, menurut data MINCI, dalam empat tahun pertama saja Chavez sudah membahas 500 topik dan membuat 800 pengumuman. Menurut salah satu penggemar Alo Presidente, Fidel Castro, jumlah tayang Chavez di program TV itu setara dengan 64 hari normal.

Tempat acara ini pun pindah-pindah. Awalnya, acara ini digelar di istana Kepresidenan Miraflores, tapi dirasa terlalu terisolir dari massa rakyat. Akhirnya, acara pun dipindah-pindah ke berbagai pelosok Venezuela. Di setiap tempat yang akan menjadi tempat pengambilan gambar, rakyat dari berbagai pelosok—khususnya yang punya pertanyaan—membawa bekal dan menginap di tempat tersebut.

Alat Komunikasi Atau Propaganda?

Acara “Alo Presidente” telah menarik banyak keterlibatan rakyat. Dengan begitu, rakyat juga makin mengetahui arah kebijakan pemerintahan Chavez. Di sini, seorang rakyat kecil juga berbicara langsung dengan Presiden.

Pihak oposisi pun bereaksi keras. Takut kehilangan pendukungnya, oposisi menganggap acara ini sebagai sarana propaganda belaka. Surat kabar pro-oposisi, El Nacional, menyebut acara ini mirip “pertunjukan sirkus”

Namun, tidak demikian dengan banyak orang. Stasiun TV pemerintah ABN mengklaim sebanyak 53% rakyat Venezuela menganggap acara itu bagus. Sementara 12% lainnya menganggap acara itu buruk.

Bagi Vanessa Davies, seorang presenter TV, acara itu menjadikan Chavez sebagai “komunikator terbesar dari revolusi”.

Fernando Buen Abad, seorang intelektual kiri Meksiko, menyebut acara “Alo Presidente” sebagai sarana komunikasi untuk pembangunan sosial. Bagi rakyat biasa Venezuela, acara tersebut sangat membantu mereka dalam menemukan solusi atas persoalan-persoalan mendesak.

Begitu suksesnya acara ini, sehingga dua Presiden kiri Amerika Latin lainnya, yaitu Evo Morales dari Bolivia dan Rafael Correa dari Ekuador, juga berniat membuat program televisi serupa.

Format Kedepan

“Alo Presidente” kembali akan menjadi alat komunikasi revolusi. Di tengah gencarnya program sosial yang dikucurkan Chavez, sarana sosialisasi semacam ini memang sangat dibutuhkan.

Sebetulnya, di luar Alo Presidente, kelompok penyiaran independen dan radio-radio komunitas juga aktif mendukung revolusi. Mereka menyampaikan dan mensosialisasikan program-program pemerintah.

Kedepan, menurut Menteri Komunikasi Venezuela, Andrés Izarra, acara ini akan mengutamakan partisipasi luas massa rakyat. Selain itu, acara ini juga akan didorong untuk membahas topik-topik yang lebih spesifik.

Kedepan, selain komunikasi melalui telpon dan surat, “Alo Presidente” juga akan menerima pertanyaan dari Twitter dan Facebook.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • hardodi

    sangat di kagumi oleh pemerinttah venozoela (chavez),beliau dapat berkomunikasi dgn rakyat kecil dari setiap sudut2 venozoela melalu ” alo presedente “.ad beberapa pertanyaan dari saya, yang pertama bagaiman metode yang di pake oleh alo presedente dalam merangkum suara2 rakyat…??trus apakah “alo presidente ” efektif jika di terapkan di indonesia, karena wilayah terotorial indonesia yang begitu luas dan masih banyak daerah yang bellum dapat di jangkau dgnn jaringan telepon..? kira2 apa yang menjadi kendali negara indonesia, sehingga tidak dpt berkomunikasi dgn rakyat indonesia.