ALBA Dan Semangat Bandung 1955

Negara-negara anggota Alternatif Bolivarian untuk Rakyat Amerika (ALBA) berkumpul di Ibukota Venezuela, Caracas, akhir pekan lalu. Negara pembentuk ALBA meliputi: Saint Vincent-Grenadines, Antigua- Barbuda, Dominika, Nikaragua, Kuba, Bolivia, Ekuador dan Venezuela.

Sejumlah kesepakatan penting dihasilkan oleh pertemuan itu. Di pertemuan hari pertama, negara-negara anggota ALBA sudah membulatkan tekad untuk meninggalkan jalan neoliberalisme dan sistim perdagangan yang berbasiskan logika mencari keuntungan semata.

Sebagai tindak lanjutnya, negara-negara ALBA sepakat untuk memperkuat bank ALBA. Bank ALBA dibentuk pada tahun 2008. Tujuannya: memberikan dukungan ekonomi pada proyek regional yang berorientasi kerakyatan dan memperluas pembangunan sosial di kawasan itu.

Negara-negara anggota ALBA sepakat menggunakan 1% cadangan devisa mereka kepada bank awal sebagai dana cadangan. Dana tersebut, nantinya, akan diperuntukkan untuk pembangunan ekonomi dan sosial di kawasan itu. Bank ALBA diproyeksikan menjadi alternatif terhadap Dana Moneter Internasional (IMF).

Kesepakatan ALBA lainnya adalah penggunaan mata uang bersama bernama sucre. Dengan penggunaan mata uang bersama ini, khususnya dalam perdagangan, negara-negara ALBA bisa menghindar dari dominasi dollar dan manipulasi valuta asing.

Kesepakatan penting dari pertemuan ALBA lainnya adalah kebutuhan memperluas dan memperdalam agenda anti-imperialisme. Dalam kerangka itu, negara-negara ALBA sepakat untuk memberikan dukungan kepada negara-negara yang secara politik masih terjajah. Sebut saja: Puerto Rico, negara yang dibawah kontrol Amerika Serikat.

ALBA juga sepakat mendukung Argentina melawan klaim imperialis Inggris atas kepulauan Falkland. Selain itu, ALBA juga sepakat untuk mengutuk AS atas blokade puluhan tahun terhadap Kuba.

Negara-ngara ALBA juga sepakat membantu Haiti, negara Karibia yang menjadi korban eksploitasi kolonialisme dan bencana. ALBA akan membantu semacam proyek bersama untuk membantu Haiti. Menariknya, bantuan yang diberikan oleh negara-negara ALBA kepada Haiti dimasukkan dalam kerangka solidaritas.

Selain itu, negara-negara ALBA juga setuju mengutuk serangan dan campur tangan barat terhadap Suriah. ALBA menganggap serangan barat sebagai upaya destabilisasi politik pemerintahan di Suriah.

Semangat ini pernah dikobarkan 55 tahun yang lalu oleh negara-negara Asia dan Afrika, di Bandung, Indonesia. Saat itu, 29 negara dari Asia dan Afrika telah bersepakat untuk mengakhiri segala bentuk kolonialisme.

Samir Amin, seorang pemikir anti-imperialis kelahiran Mesir, berkali-kali menjelaskan arti-penting semangat konferensi Asia-Afrika dalam kebangkitan kembali gerakan anti-imperialis dan anti-kolonialisme di Amerika Latin.

Ironisnya, Indonesia, salah satu pelopor konferensi Asia-Afrika 1955, justru berada dalam kutub negara yang menjadi budak neoliberal. Di dunia internasional, Indonesia hampir tidak memainkan peranan signifikan dalam memperjuangkan dunia multi-polar, apalagi mengakhiri neo-kolonialisme dan imperialisme.

Di tingkat regional, melalui ASEAN, Indonesia justru menjadi “pion” untuk memainkan kepentingan negeri-negeri imperialis di kawasan ini. Ini nampak dari politik luar negeri pemerintah Indonesia yang seringkali menjadi promotor agenda imperialisme.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut