Aktivis Serikat Tani Pertanyakan Kebijakan Impor Beras Di Riau

Tanpa diketahui masyarakat secara luas, ternyata provinsi Riau telah mengimpor beras dari Vietnam sebanyak 20 ribu ton sejak November lalu.

Beras itu, menurut penjelasan Humas Bulog Riau Andi Patris, akan dipergunakan untuk mencukupi kebutuhan beras di Riau yang mulai menurun jumlahnya.

Andi Patris pun mengacu pada kenaikan harga beras di sejumlah pasar di kota Pekanbaru dan kota-kota lainnya.

Sementara itu, Ketua Serikat Tani Riau (STR) Teri Hendra menyatakan tidak menerima alasan kenaikan harga beras sebagai bukti berkurangnya stok beras di riau, dan mempertanyakan alasan lebih lanjut di balik kebijakan impor beras ini.

Karena, menurut Teri Hendra, kenaikan harga beras dipicu oleh penyerahan sepenuhnya harga beras kepada mekanisme pasar, sementara peran pemerintah semakin kecil untuk mengontrol harga.

Penyusutan areal pertanian

Selama ini Riau terkenal sebagai salah satu daerah penghasil beras, terutama dari Rokan Hilir, Rokan Hulu, Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, dan lainnya.

Akan tetapi, lahan pertanian di daerah tersebut telah menyusut secara drastis, terutama karena alih-fungsi lahan pertanian padi menjadi perkebunan sawit.

Berdasarkan catatan dinas perkebunan Riau, saat ini Luas Total Konsesi HTI yang sudah mengantongi izin di Riau secara keseluruhan sebesar 1.600.399,50 Ha, sedangkan izin perkebunan yang eksisting tutupan lahannya masih Hutan Alam seluas 390.471,109 hektar.

Luas tersebut adalah 14 % dari total luas lahan perkebunan yang saat ini ada 2.789.524 hektar. Sementara untuk lahan pertanian hanya terdapat 123.000 hektare.

Teri Hendra mencatat penyusutan lahan pertanian sawah ini sebagai salah satu penyebab berkurangnya produksi beras di Riau.

Disamping itu, Teri juga tidak menapikan persoalan lain, seperti kurangnya dukungan modal dan teknologi pertanian bagi petani, terhadap penurunan produksi pertanian.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut