Aktivis Lintas Organisasi di Kupang Diskusikan Posisi Politik Jelang Pilpres 2014

Polarisasi posisi aktivis pergerakan di dalam menyikapi Pemilihan Umum Presiden tahun 2014 mendorong sejumlah aktivis lintas organisasi di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur, mengadakan diskusi.

Inisiatif awal datang dari George Hormat, penggiat Sanggar Ekonomi Gotong Royong (Segoro NTT), yang mengundang individu-individu dari berbagai organisasi pergerakan di Kota Kupang, seperti PRD, LMND, PMKRI, FMN, BEM sejumlah kampus, dan kalangan LSM.

“Diskusi ini adalah forum dialog antar kekuatan progesif di Kota Kupang tentang posisi terhadap pilpres 2014. Target maksimalnya adalah kesepakatan tentang satu posisi yang sama, namum jika tidak tercapai minimal ada saling paham tentang posisi dan landasan masing-masing kelompok. Saling paham posisi itu penting agar tidak kontraproduktif menjadi saling serang di publik yang membuat rakyat bingung,” kata Hormat menjelaskan tujuan penyelenggaraan diskusi ini.

Sekitar 30-an orang dari berbagai latar belakang organisasi hadir di dalam diskusi pada Sabtu, 3 Mei 2014, itu. Namun, peserta yang hadir umumnya sebagai individu karena banyak organisasi yang belum memiliki posisi resmi.

Peserta mengeksplorasi berbagai peluang dan tantangan yang muncul dari Pilpres 2014. Diskusi ini menyepakati bahwa ada sejumlah peluang dan juga tantangan yang dihadapi pergerakan rakyat dalam Pilpres ini. Jika diolah dengan baik, peluang tersebut menghasilkan kemajuan gerakan rakyat melawan imperialisme yang menjadi persolan pokok bangsa. Tetapi jika tantangan yang ada tidak disiasati dengan benar, berpotensi memukul mundur konsesi politik dan ekonomi yang telah didapatkan rakyat selama ini; atau minimal menyebabkan hilangnya peluang bagi rakyat dan kemajuan gerakan.

Beberapa peluang pilpres bagi kemajuan gerakan rakyat melawan neoliberalisme hasil kesimpulan diskusi itu adalah: pertama, kemenangan dua partai yang menjadi oposan pemerintahan SBY, sebuah representasi politik utama dari kepentingan neoliberal di Indonesia bisa dibaca sebagai kehendak rakyat akan perubahan dan penolakan mereka atas kebijakan-kebijakan neoliberal, selain penolakan atas tingginya kasus korupsi yang menyeret lingkaran kekuasaan SBY. Kedua, menguatnya isu kemandirian nasional dan anti imperialisme dalam perang pernyataan kubu-kubu petarung pilpres, terutama antara Jokowi dan Prabowo. Ketiga, menguatnya partisipasi aktif kelas menengah sosial Indonesia sebagai dampak kehadiran Jokowi dan Prabowo. Partisipasi itu tampak dari terbentuknya berbagai organisasi relawan dan tingginya jumlah posting terkait politik pada sosial media. Jika dahulu pernyataan-pernyataan pada sosial media lebih banyak berisi sikap apatis atau anti politik praktis, kini sebagaian besar justru berisi pernyataan mendukung capres-capres yang ada, lengkap dengan berbagai argumen mendukung dan serangan terhadap pihak lain.

Sementara tantangan yang muncul adalah: pertama, polarisasi politik dan saling kritik antara organisasi-organisasi progresif, sekaligus perang argumentasi dukungan politik pada borjuis yang cenderung keluar dari isu-isu non-problem pokok, bahkan subjektif dan dangkal. Kedua, propaganda organisasi-organisasi progresif pendukung masing-masing capres justru terjebak pada sikap mengekor kesadaran massa yang bisa berdampak pada menguatnya “Ilusi ratu adil” pada capres dan partai politik borjuis.

Menyadari potensi dan tantangan yang ada, forum diskusi ini menyepakati bahwa tugas organisasi-organisasi gerakan di Kota Kupang adalah bahu-membahu mengisi kekosongan kampanye terkait problem pokok bangsa, yaitu jalan keluar programatik yang harusnya diambil oleh para capres. Beberapa tuntutan program utama yang disepakati, antara lain: nasionalisasi industri minyak, gas, dan batu bara. Pendapatan negara dari sektor ini kemudian digunakan untuk investasi pada pengembangan sumber energi terbaharukan, dan mendorong terbentuknya usaha pengolahan milik kolektif rakyat di pedesaan; nasionalisasi perusahaan farmasi untuk mendukung biaya kesehatan murah, nasionalisasi industri kimia dasar dan logam dasar untuk menyokong industrialisasi nasional; serta reforma agraria.

Forum diskusi sepakat untuk mengkampanyekan tuntutan programatik terkait jalan keluar atas problem pokok bangsa tersebut tidak bisa bertentangan dengan kesadaran massa berpemilu dan karena itu bentuknya adalah mengajak rakyat mengajukan proposal politik kepada bakal capres.

Diskusi akan kembali dilanjutkan Sabtu, 10 Mei 2014 untuk membahas bentuk-bentuk langkah perjuangan bersama.

Laporan: Ira Sobeukum

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut