Aktivis dan Rohaniwan Maumere Kecam SBY atas Pembantaian Rakyat Bima

Sekitar 50-an orang aktivis, rohaniawan, dan tokoh masyarakat di Maumere, Flores, mengecam pemerintahan Yudhoyono yang dianggap gagal melindungi rakyat. Hal ini tersampaikan dalam unjukrasa bersolidaritas terhadap petani Bima, Nusa Tenggara Barat, di depan Mapolres Sikka, Kamis (29/12) siang tadi.

Mengambil titik star dari depan Pusat Penelitian Candraditya, massa aksi mulai bergerak menuju Mapolres Sikka pada pukul 11.00 WIT. Tampak berkibar berbagai bendera organisasi anggota Persatuan Anti-Kolonialisme (PAK NTT) yang memiliki cabang di Maumere, seperti Partai Rakyat Demokratik (PRD), LMND, PMKRI, dan GMNI. Hadir juga perwakilan Sema STFK Ledalero dan  sejumlah LSM seperti TRUK-F, JP-HAM, dan Alinrangkang. Di dalam barisan tampak para rohaniwan populis, peneliti dan pengajar di STF Ledalero seperti Pater Hubert Thomas, SVD, P. Eman Embu, SVD, P. Okto Gusti, Rm Silirus, Pr, dan Suster Esto.

Dalam orasinya, para aktivis dan rohaniwan menyampaikan kecaman mereka terhadap pemerintahan Yudhoyono atas kegagalan melindungi rakyat di berbagai daerah. Mereka juga menuntut pencopotan Kapolri, Kapolda NTB, dan Kapolres Bima, serta pengunduran diri Bupati Bima.

Kupang Terus Berlanjut, Lembata Turun Esok

Di Kupang, Nusa Tenggara Timur, Kamis malam (29/12), Persatuan Anti-Kolonialisme (PAK NTT) menggelar rapat persiapan unjukrasa. Sekitar 5 organisasi lagi, seperti GMNI, Imapem, dan sejumlah paguyuban mahasiswa berbasis etnis telah bergabung di dalam PAK NTT.

Setelah beberapa hari menggelar mimbar bebas, Jumat (30/12) PAK NTT akan berunjukrasa ke Mapolda NTT yang terletak persis di seberang posko mimbar bebas. Mereka akan mendesak Kapolda NTT menyampaikan tuntutan mereka kepada Kapolri

Rapat yang dihadiri 20an orang itu dilanjutkan nonton bersama video pembantaian rakyat Bima. Video tersebut merupakan rekaman kamera telepon genggam dari salah seorang pengunjukrasa.

Rabu (28/12) kemarin, sebuah aliansi lain, yang terdiri dari sejumlah LSM di Kupang juga menggelar unjukrasa mengecam kekerasan di Bima.

Ditanya alasan tidak meleburnya gerakan solidaritas dalam satu aliansi, Humas PAK NTT, Willy Soeharly, mengatakan, PAK NTT menyikapi persoalan Bima dan kekerasan terhadap rakyat di tempat-tempat lain dalam perspektif ekonomi-politik yang menjadi sebab terjadinya berbagai kasus tersebut, yaitu keberpihakan rejim neoliberal Yudhoyono pada modal asing.

Hal tersebut yang mungkin membuat enggan kelompok LSM yang cenderung melokalisir persoalan kekerasan semata-mata pada problem profesionalisme di institusi Polri.

Selain di Kupang, unjukrasa Jumat esok juga akan dilakukan di Lewoleba oleh PAK Lembata. Kamis (29/12) tadi, PAK Lembata menggelar aksi pembagian selebaran di Kota Lewoleba. Sedangkan di Ende, aksi pembagian selebaran terus dilakukan berbagai organisasi.***

JOEL

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut