Aksi Teaterikal Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) DIY: CABUT SK 188/2010

PULUHAN aktivis yang tergabung dalam Front Rakyat Anti Tambang (FRAT) Yogyakarta menggelar mimbar bebas dan aksi teatrikal di Bundaran UGM Yogyakarta tadi pagi (13/01). Dalam aksi teatrikal ini, 10 orang aktivis mengecat putih tubuh mereka dan menuliskan huruf yang berisi tuntutan ” CABUT SK 188″. Aksi ini dilakukan sebagai bentuk solidaritas atas tragedi Bima berdarah, Mesuji, Meranti Papua dan berbagai konflik agraria yang kini sedang melanda di beberapa wilayah di Indonesia.

Aktivis FRAT menyerukan tuntutan masyarakat sudah bulat, yaitu menghendaki SK Bupati Nomor 188/45/357/004/2010 tentang eksplorasi tambang emas di Kecamatan Sape dan Kecamatan Lambu dicabut total. Seperti diketahui, izin bupati tersebut diberikan kepada PT. Sumber Mineral Nusantara (SMN) dengan luas lahan 14.318 Ha dan PT. Indo Mineral Cipta Persada.

Para aktivis menilai, keberadaan tambang dinilai sangat beralasan untuk ditentang karena membahayakan dan menghancurkan mata pencaharian warga setempat yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani. Dengan beroperasinya perusahaan tambang tersebut, maka lahan-lahan milik petani akan tergusur. Belum lagi dampak dari beroperasinya tambang dapat menhancurkan ekosistem dan pencemaran lingkungan. Sistem pengelolaan industri tambang pun sangat jauh dari amanat pancasila dan semangat UUD 1945 pasal 33.

Aksi ini dilakukan untuk mendukung aksi yang dilakukan di beberapa titik yaitu di kementerian ESDM, Kantor Gubernur NTB, Kantor Bupati Bima dan rapat akbar di lapangan Lambu dan daerah-daerah lainnya yang melakukan aksi solidaritas terhadap perjuangan rakyat.

Dalam orasinya aktivis FRAT menilai situasi yang terjadi saat ini terus memanas, tetapi akan sulit untuk membesar meskipun hampir seluruh masyarakat yang memperjuangkan haknya mengalami kebuntuan karena rezim SBY-Boediono yang masih bebal.

“Sudah saatnya untuk segera membentuk kepanitiaan bersama secara nasional yang melibatkan gerakan rakyat secara menyeluruh untuk menyelesaikan konflik agraria. Kita sudah tidak percaya lagi dengan rezim SBY-Boediono dan rakyat sendirilah yang harus menyelesaikan problemnya. Kunci mencapai kemenangan itu adalah persatuan nasional,” tegas ketua KPW-PRD Yogyakarta Budiman HK yang tergabung dalam FRAT.

Isnawati Pujaksena

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut