Aksi Solidaritas Mengecam Penembakan Petani Bima Di Makassar

Dibawah terik matahari siang, ratusan massa aksi yang tergabung dalam Granat (Gerakan Rakyat Anti Pertambangan) terus melakukan aksi unjuk rasa di Monumen Mandala, Makassar, pada hari kamis (17/2/2011).

Massa aksi yang telah berkumpul sejak pukul 09.00 pagi s/d pukul 11.00 WITA tersebut secara bergiliran menyampaikan orasinya. Perwakilan berbagai organisasi menyampaikan orasi politik, yang berisi kecaman terhadap perlakuan represif aparat kepolisian terhadap aksi rakyat di Kecamatan Lambu, Bima.

Dalam aksinya, berbagai yel-yel seperti “hidup rakyat, hidup kaum tani, hidup kaum buruh” terus digelorakan, diiringi nyanyian lagu-lagu perjuangan; Darah Juang, Buruh Tani, Negeri Berdarah dan lain-lain.

Aksi ini dijaga ketat oleh barikade pasukan kepolisian. Meski begitu, massa tetap melanjutkan aksinya secara damai. Adapun organisasi yang bergabung dalam aksi ini, antara lain: SMI, LMND, FMN, HMI, HIPMA Gowa, Atlas Hu’u Dompu, IMPAR Parado, FKMB Makassar, IMAM UMI, FORMAL Lambu, FOKMA Sape, KMW Woha, IKPPMS Sanggar, AL-MUSYAFIR Ngali, SMB UNM, LSN Ncera, HMW Wera, KKL Langgudu, FKMW Wawo, WKMM Makassar.

Suhaini Mustamin, selaku Kordinator Lapangan, mengecam tindakan represif tersebut. Dia mengatakan, “aparat keamanan telah dengan sengaja melakukan tindakkan kekerasan dalam aksi demontrasi Petani Bima, yang mengakibatkan dua warga tertembak peluru asli dan puluhan korban luka-luka lainnya tembak peluru karet”.

Dalam pernyataan sikapnya, Granat menganggap tindakan represif kepolisian sebagai bentuk keberpihakan polisi kepada kepentingan modal, bukan pada kepentingan rakyat. “Dalam pemberian ijin usaha pertambangan di Bima, masyarakat mendapatkan kerugian yang tidak sedikit. Sebut saja pencemaran lingkungan, kerusakan tambak, dan juga kerusakan lahan pertanian,” kata Nurjaya Ikhsan Juri, salah satu putra Bima yang sedang belajar di Makassar.

Untuk diketahui, pada tanggal 10 Februari 2011 lalu, ribuan rakyat Lambu menggelar aksi di kantor kecamatan. Mereka menolak ijin IUP terhadap PT. Sumber Mineral Nusantara. Ketika perwakilan sedang menggelar dialog, tiba-tiba bentrokan pecah antara polisi dan massa. Dua orang warga tertembak oleh peluru tajam, sedangkan puluhannya lainnya terkena peluru karet.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: