Aksi Mogok Buruh PT. Raconindo Diancam Dikriminalisasi

Sudah dua minggu lebih buruh PT. Raja Container Indonesia (Raconindo) menggelar aksi pemogokan.  Mereka membangun tenda di depan pintu pabrik di jalan Rorotan 2-3 Babek TNI, Cakung Barat, Jakarta Timur. Namun, sampai kemarin (21/1), pihak perusahaan tak kunjung memenuhi tuntutan kaum buruh.

Sebaliknya, kemarin sore, pihak perusahaan melaporkan aksi pemogokan itu ke pihak kepolisian. Alhasil, buruh yang tergabung dalam Federasi Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI) didatangi pihak kepolisian.

“Polisi mengancam-ancam mau mengkriminalkan kami. Pengurus SBTK (Serikat Buruh Tingkat Pabrik) FNPBI dipanggil pihak kepolisian,” ujar Sekretaris Jenderal FNPBI, Desi Arisanti, yang turut mendampingi aksi pemogokan ini.

Menurut Desi, pihak perusahaan dan Kepolisian menuding kaum buruh sengaja menghalangi-halangi aktivitas perusahaan, yakni aktivitas memasukkan dan mengeluarkan barang.

Tetapi Desi menampik tudingan tersebut. Menurutnya, aksi pemblokiran pintu gerbang perusahaan itu merupakan upaya kaum buruh untuk mengajak pihak pengusaha berdialog secara baik-baik.

“Ini kan pengusaha-nya melanggar Hak-Hak normatif kaum buruh. Dan kami, kaum buruh, hanya memperjuangkan hak kami yang dilanggar. Dan perjuangan kami ini legal dalam Undang-Undang,” ujar Desi.

Desi menegaskan, pihak kepolisian seharusnya menangkap pihak pengusaha karena telah melanggar hak-hak normatif kaum buruh sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

Menurut Desi, ada empat hal yang dilanggar oleh pengusaha PT. Raconindo, yaitu upah buruh di bawah UMP, jam kerja melewati 8 jam sehari, status pekerja yang tidak jelas, dan perhitungan lembur yang tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang.

Terkait ancaman kriminalisasi itu, pihak FNPBI berencana melaporkan balik pengusaha PT. Raconindo. Selain itu, karena pengusahanya berasal dari Australia, maka FNPBI juga berencana mendatangi Kedutaan Besar Australia.

Untuk diketahui, aksi mogok pekerja PT. Raconindo ini dipicu oleh PHK sepihak oleh pihak perusahaan. Ironisnya, setelah mem-PHK semua pekerjanya, pihak perusahaan malah mendatangkan pekerja outsourcing. Tak hanya itu, selama bertahun-tahun bekerja di perusahaan itu, hak normatif kaum buruh dilanggar pengusaha.

Para buruh sendiri sudah dua minggu menggelar aksi mogok. Mereka membangun tenda di depan pabrik. Berbagai upaya kaum buruh untuk melakukan negosiasi selalu dimentahkan pihak perusahaan. Hingga berita ini diturunkan, kaum buruh mendapat ancaman pembubaran dari pihak kepolisian.

Ulfa Ilyas

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut