Long March Petani Blitar Tiba Di Istana Negara

Setelah berjalan kaki selama 21 hari, dengan menerobos hujan maupun panas, ratusan petani dari Blitar, Jawa Timur, berhasil menginjakkan kaki di depan Istana Negara, Kamis (31/1).

Para petani yang berhimpun dalam Front Perjuangan Petani Mataraman (FPPM) ini tiba di depan Istana Negara sekitar pukul 15.00 WIB. Begitu tiba di depan istana, petani langsung menggelar orasi secara bergantian.

Koordinator FPPM Mohammad Trianto menjelaskan, aksi long-march petani dari Blitar ke Jakarta untuk menagih janji Presiden SBY terkait distribusi lahan 9,25 juta hektar kepada petani.

“Pada tahun 2009 lalu, pak SBY menjanjikan akan mendistribusikan tanah untuk rakyat. Janji itu sempat diucapkan pula di depan petani Blitar yang menjadi korban konflik agraria,” ujar Trianto.

Akan tetapi, kata Trianto, setelah hampir 4 tahun berlalu, janji politik tersebut tak kunjung direalisasikan. Sebaliknya, selama rezim SBY berkuasa, kasus perampasan tanah rakyat meningkat drastis.

“Semasa SBY jadi Presiden, terjadi 618 konflik agraria di Indonesia. Dan, karena pendekatan penyelesaiannya represif, sebanyak 44 orang petani tewas karena mempertahankan tanahnya,” ungkap Trianto.

Karena itu, dalam orasinya Trianto juga mendesak agar SBY mengubah politik agrarianya. “Jangan lagi tanah itu diperuntukkan kepada pemilik modal. Tetapi tanah itu harus dikembalikan kepada petani penggarap untuk mendukung produksi pangan nasional,” gugatnya.

Setelah berorasi selama beberapa menit, 11 orang perwakilan petani Blitar diterima oleh anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) bidang kesejahteraan rakyat, Dr.dr Siti Fadilah Supari, di ruang kerjanya.

Sementara di depan Istana Negara, petani tetap melanjutkan aksinya dengan orasi-orasi politik. Bersamaan dengan itu, sejumlah aktivis dan korban pelanggaran HAM juga menggelar “aksi kamisan”.

Salah seorang peserta aksi kamisan, Maria Katarina Sumarsih (52), ibunda Bernardus Norma Irmawan, mahasiswa Atma Jaya yang tewas dalam peristiwa Semanggi 1998, menyampaikan orasi solidaritas di depan petani Blitar, Mesuji (Lampung), dan Jambi.

Ia menyatakan mengapresiasi semangat juang petani Blitar, yang telah berjalan-kaki ratusan kilometer dari Blitar ke Jakarta, demi menuntut keadilan kepada Presiden SBY di Jakarta.

“Saya memberikan apresiasi kepada para petani Indonesia yang telah tulus berjuang menuntut keadilan kepada penguasa,” katanya.

Selain itu, ia menjelaskan perihal “aksi kamisan”. “Tiap hari Kamis Sore, saya dan kawan-kawan berdiri di tempat ini, diam untuk melawan lupa, untuk memperjuangkan kebenaran dan keadilan terhadap anak-anak kami yang hilang dan korban pelanggaran HAM lainnya,” jelasnya.

Orasi politik juga disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Partai Rakyat Demokratik (PRD), Dominggus Oktavianus. Ia menyampaikan apresiasi besar atas militansi petani Blitar, Jawa Timur, yang telah menggelar aksi long-march dengan jarak tempuh cukup jauh.

Dominggus juga menyinggung ketidakadilan agraria di Indonesia. Menurutnya, tata-kelola agraria saat ini tak berbeda jauh dengan jaman kolonialisme.

“Di jaman kolonial, prioritas peruntukan tanah adalah untuk pemilik modal. Dan sejak orde baru hingga jaman reformasi, khususnya di bawah rezim SBY, peruntukan tanah juga sangat pro pemilik modal,” kata Dominggus.

Karena itu, menurut Dominggus, selain tuntutan penyelesaian konflik agraria yang dihadapi petani, ada tugas besar yang harus diemban dan dituntaskan oleh kaum tani, yakni mengembalikan pasal 33 UUD 1945 dan UUPA 1960 sebagai pedoman pokok tata-kelola agraria.

Orasi solidaritas juga disampaikan oleh aktivis Sarekat Hijau Indonesia, Andreas Iswinarto. Ia menyinggung berbagai kasus kekerasan terhadap petani, termasuk represi terhadap aksi petani di Sumsel baru-baru ini, dan kasus kriminalisasi terhadap gerakan rakyat di berbagai daerah.

Andreas juga menyampaikan dukungan terhadap perjuangan petani menuntut keadilan dan hak hidup sebagaimana diatur dalam konstitusi negara.

Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, hujan deras mengguyur Jakarta, termasuk kawasan di depan Istana. Meski begitu, sejumlah petani memilih basah-kuyup sembari menyimak orasi-orasi politik.

Orasi solidaritas lainnya disampaikan oleh Luviana, jurnalis Metro TV yang menjadi korban PHK sepihak. “Tanah tempat kita berpijak, yang telah menghidupi kita, adalah milik kita, bukan milik segelintir elit penguasa dan pemilik modal,” kata Luviana.

Untuk diketahui, long-march petani Blitar dimulai sejak tanggal 11 Januari 2013 lalu. Setelah menempuh perjalanan selama 21 hari, petani memasuki wilayah Jakarta.

Petani tiba di kantor Kemenhut sekitar pukul 10.00 WIB. Lalu, setelah beristirahat sejenak, petani Blitar bersama petani Jambi dan Mesuji bergerak menuju Istana Negara.

Sejumlah organisasi rakyat, seperti Serikat Rakyat Miskin Indonesia (SRMI), Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Partai Rakyat Demokratik (PRD), Serikat Tani Nasional (STN), dan Front Nasional Perjuangan Buruh Indonesia (FNPBI), turut berbaris bersama petani menuju Istana Negara.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Mahasiswa kok diam ya…??? Eh mahasiswa d bayar berapa kalian ma SBY????