Aksi Internasional Di 40 Negara Menentang Monsanto

Aktivis dan petani dari 40 negara dan 300 kota besar di dunia akan menggelar aksi serentak pada tanggal 25 Mei 2013 untuk menentang Monsanto, perusahaan multinasional asal Amerikat Serikat yang bergerak di bidang pertanian dan produk pangan.

Aksi ini diorganisasi oleh gerakan “March Against Monsanto”. Diperkirakan lebih 200.000 aktivis akan berpartisipasi dalam kampanye menentang Monsanto. Di AS sendiri, aksi ini direncanakan akan berlangsung di 48 kota, termasuk New York dan Chicago.

Isu besar yang diangkat oleh para aktivis adalah penentangan terhadap proyek Monsanto melakukan rekayasa genetika (GE) dan produk rekayasa genetika (Genetically Modified Organism/GMOs). Praktek ini ditengarai sangat berbahaya bagi kesehatan manusia dan menyebabkan korporasi mengontrol pangan dan produk pangan dunia.

Tami Monroe Canal, salah satu aktivis yang menggalang kampanye anti-Monsanto di Facebook, mengatakan bahwa Monsanto mengancam kesehatan, kesuburan, dan usia generasi. “Saya tidak bisa duduk diam, dan menunggu orang lain melakukannya,” kata dia.

Josh Castro, seorang organiser anti Monsanto di Ekuador mengungkapkan, “Ekuador adalah tempat yang indah, dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Kami tidak mau Taman Eden ini dirusak oleh perusahaan multinasional seperti Monsanto. Bioteknologi bukan solusi bagi kelaparan dunia.”

Selain soal kesehatan, kekhawatiran lain adalah makin kuatnya kontrol korporasi terhadap benih dan produk pangan dunia. Laporan dari Center for Food Safety and Save Our Seeds mencatat, sebanyak 53 persen pasar benih komersial dunia telah dikendalikan oleh hanya tiga perusahaan: Monsanto, DuPont, dan Syngenta.

Di AS, seorang petani bernama Vernon H. Bowman digugat oleh Monsanto karena menanam kedelai yang berasal dari tanaman yang ditanam oleh petani lain yang menggunakan benih yang dipatenkan Monsanto. Monsanto menuding petani itu telah mencuri hak patennya.

Indonesia juga menjadi target Monsanto. Monsanto sendiri menargetkan bisa menguasai sekitar 30% pasar benih jagung di Indonesia yang mencapai 60.000 metrik ton per tahun. Untuk mewujudkan ambisi ini, Monsanto telah menciptakan produk benih jagung hibrida, yakni benih jagung Hibrida DK 95 dan DK 85.

Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut