Akhiri Politik Pencitraan!

SBY pantas dinobatkan sebagai aktor terbaik dalam dunia politik Indonesia. Ia sanggup memerankan dengan baik lakon presiden dengan segala kebajikan dan kebaikannya. Ia selalu bertindak dengan bijak, memutuskan segala sesuatu dengan hati-hati dan penuh pertimbangan, dan tindakannya selalu mengatasnamakan kepentingan rakyat.

Dia adalah pemimpin dalam dunia politik yang serba sudah disetting. Pemimpin seperti ingin memimpin seperti dewa-dewa: tidak ada salah, tidak ada dosa, tidak ada gesekan, intrik politik dan fitnah. Ia ingin memerintah dengan segala kesucian dan kebersihannya.

Tetapi kita hidup di dalam dunia, bukan surga. Kita hidup dalam dunia yang selalu dinamis, dialektis, selalu bergolak dan bergerak. Justru, karena kita sebagai manusia, sebagai makhluk yang terpilih, harus bisa menghadapi dunia yang semacam itu dengan berbagai pilihan-pilihan di tangan kita. Seorang manusia terkadang harus memilih jalan yang sulit dan berat, bahkan paling berat, demi mempertahankan kehidupan.

Seorang pemimpin harus hidup dalam dunia nyata. Ia harus bersedia menerima resiko-resiko yang dikehendaki dan tak dikehendakinya. Ia juga harus menerima segala respon manusia yang dipimpinnya, baik berupa pujian maupun cap buruk, atas segala tindakan politiknya.

Tetapi SBY ingin kesempurnaan. Ia hanya mau dianugerahi pujian, tetapi menolak ditimpakan kesalahan, cacat, dan celaan. SBY hanya mau menampilkan satu aspek dari kekuasaannya: prestasi dan kebaikan. Di sinilah muncul banyak persoalan:

Pertama, angka-angka statistik dimanipulasi. Akhirnya, kita menemukan betapa kuatnya intervensi politik dalam mengatur kriteria kemiskinan, pengangguran, pertumbuhan ekonomi, dan lain sebagainya. Yang terpublikasikan adalah angka-angka statistik yang menguntungkan pemerintah secara politis.

Kedua, kita juga mendengar banyak jargon daripada tindakan. Begitu banyak jargon pembangunan yang digembar-gemborkan pemerintah, tapi sangat miskin dalam implementasi praksisnya. Sebut saja: gembar-gembor pemerintah untuk memberantas korupsi, tapi sampai sekarang tidak terbukti sedikitpun.

Ketiga, banyak ketidaksesuaian antara ucapan dan tindakan alias bohong. Banyak sekali janji-janji manis pemerintah yang tidak pernah terbukti sampai sekarang. Salah satunya adalah program pembaharuan agraria nasional (PPAN), yang sampai sekarang tidak jelas kemana dan dimana program itu dijalankan. Masih banyak janji-janji pemerintah, yang pernah diucapkan secara resmi di hadapan publik, tetapi tidak pernah berjalan atau dilaksanakan hingga kini.

Keempat, SBY dinilai terlalu lamban merespon persoalan. Demi menjaga citra di mata rakyat, SBY terkadang ragu atau bahkan lamban dalam merespon berbagi persoalan yang muncul di masyarakat. “Kehatian-hatian yang berlebihan ini” justru membuat pemerintah selalu gagal sebelum bertindak.

Kelima, SBY terlalu banyak menghimbau dan terlalu sedikit memutuskan. Ada banyak sekali pidato-pidato SBY yang bersifat himbauan, karena di dalam pidato itu sendiri terkandung banyak keragu-raguan; jangan-jangan tidak populer, jangan-jangan ditentang banyak orang, dan lain sebagainya.

Sebuah kebijakan pastilah merupakan keberpihakan: ada yang diuntungkan, tapi ada pula yang dirugikan. Di sini, seorang pemimpin haruslah mengutamakan kepentingan nasional yang lebih besar dan rakyat banyak.

Keenam, SBY menjadi tukang klarifikasi dan penjaga nama baik keluarga. Klarifikasi memang perlu, apalagi untuk menjelaskan atau menguraikan sebuah persoalan yang masih kabur dipahami massa rakyat. Tetapi terlalu banyak pidato hanya untuk menjaga nama baik partai sendiri ataupun keluarga justru terkesan sebagai tindakan mensubordinasikan kepentingan nasional di bawah kepentingan pribadi/golongan.

Ketujuh, SBY terlalu bergantung kepada media massa dan pujian. Setiap kegiatan presiden memang perlu dilaporkan, supaya massa rakyat mengetahui dan setidaknya memberi dukungan atas kegiatan tersebut. Tetapi kalau terlalu banyak kegiatan yang dibuat-buat, apalagi untuk tujuan publisitas belaka, maka justru akan menghambur-hamburkan banyak anggaran. Ada kalanya seorang pemimpin diharapkan kehadirannya tanpa publisitas yang berlebihan.

Dan, untung SBY tidak hidup di jaman kuno, dimana kehadiran seorang pemimpin sangat diperlukan di medan peperangan. Jika ia hidup di jaman itu, bagaimana ia mengatur para pengisah agar menceritakan bahwa ia bertempur dengan gagah berani di medan peperangan dan gugur sebagai ksatria di sana.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut