Akademisi Unibraw: Indonesia Butuh Proyeksi Masa Depan

Akademisi dari Universitas Brawijaya (Unibraw) Malang, Aji Dedi Mulawarman, menyebut Indonesia membutuhkan proyeksi akan masa depan. Masalahnya, Indonesia hari ini sudah tidak punya lagi Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN).

“GBHN kita dibunuh lewat amandemen. Bayangkan, kita punya mimpi itu gak boleh. Hanya boleh mimpi lima tahunan, cetek sekali,” ujarnya dalam diskusi memperingati hari ulang tahun Partai Rakyat Demokratik (PRD) ke-23, di Jakarta, Senin (22/7/2019).

Masalahnya lagi, lanjut dia, faham liberalisme sudah masuk dalam segala aspek kehidupan berbangsa, dari birokrasi, pendidikan, hukum, politik, ekonomi dan sosial-budaya.

“Secara politik kita sangat liberal, sedangkan ekonomi kita sangat bertumpu pada pertumbuhan. Ini melawan Pancasila,” tegasnya.

Dia menegaskan, ketika faham liberal sudah merasuki semua aspek kehidupan berbangsa dan bernegara, maka Pancasila susah untuk ditegakkan.

“Mau meneguhkan kesejahteraan rakyat, tetapi teori ekonominya pertumbuhan, ya nggak bisa. Itu sama saja, mimpinya sosialis, tetapi caranya darwinisme sosial,” jelasnya.

Menurut Dedi, berbicara tentang proyeksi masa depan itu perlu semacam preskripsi, yaitu penataan sistim ekonomi, politik, sosial, dan kebudayaan yang punya logika ideologis yang jelas.

Untuk memulai proyeksi masa depan itu, Dedi mengusulkan agar kita membenahi sisi dalam kebangsaan kita, yaitu kebudayaan, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat dengan “Amerika Mengajar” dan Cina dengan “Revolusi Kebudayaan”.

Dengan menyelesaikan kebudayaan, bangsa kita akan memiliki cara pandang yang sama dalam melihat masa depan.

Mahesa Danu

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut