Akademisi NTT Fasilitasi Diskusi Caleg Aktivis

Kehadiran para aktivis di gelanggang parlementer bukanlah fenomena baru. Ada beberapa anggota DPR yang punya latar-belakang sebagai aktivis pergerakan. Sayang, kehadiran mereka di DPR belum banyak berkontribusi bagi agenda perubahan.

Hal inilah yang dibahas oleh puluhan aktivis pergerakan rakyat, akademisi, jurnalis dan pekerja LSM dalam diskusi bertajuk “Menakar Ulang Gerakan Aktivis Masuk Partai Politik” di OCD Kafe, di Pantai Lasiana Kupang, Nusa Tenggara Timur, Selasa (13/8/2013).

Diskusi ini sendiri diorganisir oleh sejumlah akademisi jebolan luar negeri asal NTT yang tergabung di dalam lembaga Institue of Resource Governance and Social Change (IRGSC).

DR Dominggus Elcid Le, sosiolog jebolan Birmingham University yang juga Direktur Eksekutif IRGSC, mengungkapkan alasan mengapa akademisi mengorganisir diskusi ini. Menurutnya, banyak aktivis yang sudah berhasil masuk ke parlemen, tetapi justru kehilangan idealisme dan nilai-nilai kolektivitasnya.

Ia mengatakan, pihaknya bukan mengeritik aktivis yang masuk ke parlemen, melainkan sebuah dorongan agar para aktivis di dalam parlemen bisa memainkan peran yang lebih berarti. “Diharapkan aktivis yang masuk ke parlemen pada 2014 mendatang bisa berbuat sesuatu yang lebis serius,” ujarnya.

Tampil sebagai pembicara pada sesi pertama adalah Farry Francis (anggota DPR RI dari Partai Gerindra), George Hormat Kulas (aktivis Partai Rakyat Demokratik yang kini caleg PKB), Sofie Malelak De Haan (Direktur Yayasan Alfa Omega, caleg Partai Nasdem), dan Chris Mboik (redaktur Harian Victory News, caleg Partai Nasdem). Mereka berbagi cerita tentang peluang dan tantangan peran aktivis di dalam partai politik dan parlemen.

Pada sesi kedua tampil pembicara dari akademisi dan rohaniawan: Romo Leo Mali, DR Merry Kolimon, dan Pdt. Icha Frans. Mereka menyampaikan pandangan mereka tentang kondisi kehidupan politik bangsa dan bagaimana seharusnya aktivis memainkan peran di dalam parlemen dan parpol.

Hampir semua pembicara memberikan dukungan terhadap para aktivis untuk berpolitik di dalam lembaga-lembaga politik formal. Namun, mereka juga menekankan pentingnya sinergi antara peran aktivis di dalam parlemen dan parpol dengan gerakan masyarakat sipil ekstra-parlementer. Teolog asal Universitas Artha Wacana Kupang,  DR. Merry Kolimon, mengajukan proposal tentang bagaimana membangun sinergi antara para aktivis di parlemen dengan gerakan masyarakat sipil.

Menurutnya, aliansi antara caleg aktivis dan gerakan masyarakat sipil menjadi penting karena partai politik besar saat ini hampir semuanya mewakili ideologi pemiliknya, yaitu kaum borjuasi, sehingga tidak bisa dijadikan sandaran perubahan.

Sementara DR. Jonathan Lasa, mantan pengajar tamu di Harvard University, selain memberikan kritikan terhadap terbatasnya penggunaan data ilmiah di dalam pengambilan keputusan politik, juga menyanggupi dukungan data dari kalangan akademisi kepada para aktivis di dalam lembaga politik formal.

Sementara James Faot, aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD) NTT, juga menyerukan perlunya sinergi antara para caleg aktivis yang mencoba taktik parlementer dengan gerakan ekstra-parlemen.

Yondris Toulwala 

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • georgehormat

    DR Merry Kolimon itu dari Univ. Krista Duta Wacana Kupang, bukan Univ Krinadwipayanan

  • Yovinianus Mado

    Ralat# : DR. Merry Kolimon bukan berasal dari Universitas Krista Duta Wacana Kupang tetapi Universitas Artha Wacana Kupang..

  • made adiparwati

    Wakil rakyat harus benar2 mewakili kepentingan rakyat ……Merakyat……