Ada Komedi di Panggung Politik

Bedah buku “Si Buta dari Gua Plato” Karya Rif’an

“Saya kira presiden tidak bisa tertawa, seperti robot yang mekanik,” demikian celetukan Fayyadl, seorang penulis buku filsafat, ketika mencontohkan fenomena tertawa dalam keseharian. Hal ini disampaikannya saat Bedah buku “Si Buta dari Gua Plato” di MCR Realino USD Yogyakara, jumat (04/02).

Selain Fayyadl, hadir juga si penulis buku “Si Buta dari Gua Plato”, Rif’an, dan Ali Usman sebagai peresensi buku. Menurut Fayyadl, yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya, selain berpikir, ya tertawa.

“Bukan manusia kalau tidak tertawa. Di sisi lain, tertawa tidak bisa dimanipulasi, tidak bisa direkayasa,” katanya.

Sedangkan Ali Usman atau akrab dipanggil Mas Aal mengungkapkan bahwa buku ini menarik jika dipahami sebagai filsafat humor, bukan humor filsafat atau rumor filsafat.

Sejalan dengan Aal, Rif’an menegaskan bahwa buku ini mengkritik pemikiran-pemikiran yang tidak sempurna. Dan, ia memilih cara humor untuk mengkritik. Demikian pula Fayyadl, menurutnya filsafat kurang praksis dalam keseharian. Selain itu, filsafat dipandangnya mulai mandul, seperti Kant yang sulit bersikap karena terlalu banyak pertimbangan. Maka filsafat perlu intervensi (lebih berperan) dalam kondisi ketidakkepastian karena dekonstruksi. Ia pun meminjam kata Marx untuk menjelaskan realita, jika sejarah terjadi berulang maka berarti dua kemungkinan. “Tragedi atau lelucon,” ujarnya.

Menurut Fayyadl, menerbitkan buku anekdot ini juga merupakan anekdot. Lebih dari itu, disebutnya Hegel, salah seorang filsuf besar Jerman, komedi diklasifikasi dua: tragedi dan epik. Subjek diposisikan berjarak dengan objek. Seperti kesedihan yang tidak dapat dibagikan, jika dijadikan sebagai objek.

Cerita kepahlawan atau epik, dimaksud seperti gambaran orang besar yang berlaku di panggung. Ia mencontohkan fenomena politik sekarang ini seperti komedi. Melihatnya, antara bodoh dan pandai (licik) terjadi dalam komedi. Ini kondisi kebutaan.

Sebagaimana penulis memilih istilah Gua Plato. Pesan yang ingin disampaikan buku ini, kata Rif’an, merujuk pada perumpamaan filsuf besar Yunani, Plato, yakni manusia yang hidup di dalam gua dan tidak mampu melihat apa-apa kecuali bayangan yang tercipta dari sinar dari luar, dan setelah keluar dari gua menusia tetap tidak melihat apa-apa. “Karena memang ia buta,” katanya diiringi tawa peserta diskusi.

Terkait lelucon, Mahbub Djunaedi pernah berkata, “Orang perlu ketawa seperti halnya orang perlu cari angin. Apalagi kalau mau mengkritik, lebih bijaksana membikin ia tersenyum daripada membikinnya bangkit dari kursi dan membelalakkan matanya.” Orang bilang manusia dungu tidak bakal bisa ketawa. Hanya manusia yang cukup inteligensi saja yang bisa tertawa mendengar humor.[]

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut