Ada Hanoman Di Pulau Kembang

Hanoman.jpg

“Mati lampu terus di sini tapi gak ada satupun politisi yang berani ngomong dengan jelas soal itu. Kami seperti orang kaya yang dibodohi. Kami punya Batu Bara melimpah. Tapi listrik tak menyala penuh. Sering padam; tanpa tahu pasti kapan menyala lagi. Kami butuh keadilan ya keadilan energi,” pesan teman lama yang asli Orang Banjar via  inbox di jejaring media sosial Facebook.

“Kalau soal listrik padam, bukankah itu hampir merata menjadi persoalan di daerah. Tak hanya Banjarmasin; tak hanya Kalimantan Selatan? Bagaimana dengan kesetaraan? Pendidikan?” reply-ku.

Lama tak ada jawaban. Barangkali dia sedang sibuk. Bukankah dia sekarang terikat dengan pekerjaan sehingga tak sembarangan meninggalkan pekerjaan untuk hal-hal yang tak berhubungan di jam-jam kerja? Hampir 5 tahun kami tidak bertemu. Entah mengapa tiba-tiba dia memutuskan untuk kembali ke kotanya, bekerja dan barangkali hendak beranak pinak di kota yang telah membesarkannya. Aku berharap bisa bertemu dengannya di kotanya sambil mengobrol banyak soal daerahnya.

Barangkali memang paling membahagiakan tinggal di kota sendiri setelah melalang-buana di kota-kota asing tanpa kebahagiaan yang pasti. Bukankah banyak cerita bagaimana orang-orang yang telah melalang buana di berbagai kota yang jauh dari kampungnya berharap bisa pulang dan tinggal di kotanya sendiri sampai ajal tiba? Baru-baru ini juga kudengar cerita dari kawanku: seorang aktivis dan pejuang di masa Bung Karno menjadi Presiden sekaligus Pemimpin Besar Revolusi Indonesia; yang telah hidup lama di kota-kota Eropa memutuskan pulang ke Indonesia dan tinggal di kota kecil tempat dia dilahirkan.

Orang Jawa menyebut perjalanan pulang ke kota sendiri adalah perjalanan penyembuhan: mulih-pulih, begitu katanya. Aku agak percaya. Anda boleh tidak percaya. Sebagai perbandingan: setidaknya ada dua novel yang sudah kubaca mengenai pulang ini. Yang pertama: Bukan Pasar Malam (1951) karya Pramoedya Ananta Toer dan Pulang (1958) karya Toha Mohtar. Bukan Pasar Malam walau bercerita perjalanan pulang karena Sang Bapak sakit parah setidaknya memberikan pesan untuk memulihkan semangat perjuangan berdasarkan cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945 dan Pulang Toha Mohtar bercerita tentang Heiho yang pulang ke desanya untuk mencari ketenangan batin dan semangat yang baru sesudah Perang Kemerdekaan. Aku pun pernah menulis cerita pendek berjudul Pulang untuk perlombaan cerpen semasa di Sekolah Menengah dalam semangat kerinduan dan melepaskan lelah. Vo Nguyen Giap, pejuang kemerdekaan rakyat Vietnam, arsitek perang gerilya yang mengalahkan penjajah Prancis dan mengusir Amerika Serikat yang meninggal pada awal bulan Oktober tahun ini di usia 102 tahun itu pun berpesan agar tidak dikuburkan di Hanoi, Ibukota Vietnam tapi memilih “pulang” ke desanya, An Xa, provinsi Quang Binh.

Dengan begitu perjalanan pulang bagi Orang Jawa sebenarnya juga adalah perjalanan persiapan untuk pergi lagi setelah dirasa pulih (sembuh dan bersemangat). Pergi ke mana gerangan dan untuk apa? Apakah tiada tujuan seperti ungkapan yang begitu popular dan terkenal: Urip Mung Mampir Ngombe? Hidup Hanyalah Mampir Minum (entah apa yang diminum) untuk melanjutkan perjalanan sampai akhir hayat tanpa tahu di mana letak kuburnya. Dari tanah kembali ke tanah dan yang percaya kepada hidup sesudah mati: bisalah sampai pada ungkapan: Kembali ke rumah Bapa di Surga atau sebagaimana orang Islam yang baik menyambut kematian seorang anak manusia:  Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un  “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya-lah kami kembali.”

Dari ungkapan Urip Mung Mampir Ngombe, bisa dikatakan bila Orang Jawa pada dasarnya adalah seorang perantau yang tangguh; hidupnya selalu dalam keadaan pergi dan tak pernah mengenal kata pulang, kecuali pada penyembuhan dan kematian yang tak terelakkan. Siapakah teladan Sang Pergi, Sang Pejalan Jauh ini? Aku juga tidak tahu. Hanya saja, baik juga kalau aku ceritakan kepadamu tentang Hanoman, Si Kethek Putih yang telah mengembara dari tanah India sampai  Tanah Jawa agar kamu mempunyai gambaran tentang perantau Jawa yang bersemboyankan urip mung mampir ngombe menurut versiku tentu saja.

***

Hanoman, disebut juga Anoman adalah nama yang popular tak hanya di tanah Hindustan, India tapi juga di Jawa. Di China sering dikaitkan dengan Sun Go Kong, Kera Putih yang Sakti. Di Jawa lebih akrab dengan nama Anoman yang mau tak mau diasosiasikan dengan Pemuda, Anom. Begitulah seharusnya Pemuda mengambil nilai-nilai Anoman yang rela dan berani tanpa takut melawan keangkara-murkaan dan menumpas kejahatan. Bukankah hanya dalam usia muda nilai-nilai kerelaan, penuh cita-cita dan sering dikatakan revolusioner itu berada? Betapa memalukan menjadi pemuda tapi bertingkah tua dalam artian membela nilai-nilai lama yang tidak bersemangat perubahan.  Dalam sejarah perjuangan nasional, Pemuda menjadi pelopor berdirinya Republik dan mengusir keserakahan kolonialisme.

Dalam masyarakat Jawa, organisasi pemuda yang rela melayani kebutuhan sosial masyarakat disebut Sinoman. Dengarlah lagu Macapat Sinom;  rasakan jiwa remaja yang lincah, menantang dan pemuda pendobrak yang berhasrat merengkuh masa depan dengan penuh kerelaan dan gairah. Begitulah nama Anoman melekat dalam tradisi dan kehidupan sosial, khususnya di Jawa dan dijadikan teladan bagaimana seharusnya kaum muda menjalani hidupnya dalam kerelaan berjuang dan menolong kaum tertindas. Namanya juga selalu dikaitkan dengan keberanian melawan keangkara-murkaan dan selalu menang atas kejahatan bahkan sampai akhir jaman.

Kejatuhan angkara murka Orde Baru, Jendral Soeharto itu pun tak luput dari simbol alias semangat Anoman. Setahun sebelum Orde Baru jatuh, Anoman dijadikan maskot untuk olahraga tingkat Asean yang ke-19 yang diselenggarakan di Jakarta. Ikon Anoman dalam berbagai bentuk bertebaran  di imajinasi rakyat. Lagu Anoman Obong pun tercipta (http://www.youtube.com/watch?v=_4LqvZYA-TU) dan terus menjadi amuk-mengamuklah Pemuda Indonesia sebagaimana Anoman mengamuk di Istana angkara murka Dasamuka ketika kaum tua yang bebal tak ingin perubahan menetapkan kembali Jendral Soeharto menjadi presiden.

Di Indonesia, hidup Anoman yang berani dan selalu berjiwa muda ini pun tak pendek tetapi panjang. Aku mau hidup seribu tahun lagi sebagaimana jeritan pemuda Chairil Anwar dalam latar Revolusi Indonesia seakan berlaku pada pemuda Anoman. Anoman masih hidup sesudah perang besar Baratayudha sampai generasi ke-enam keturunan Arjuna. Dikisahkan: bagaimana Anoman yang sudah melalang-buana menumpas kejahatan mulai bosan menjalani kehidupan. Toh, walau sudah berjibaku menumpas kejahatan, kejahatan tetap terus tumbuh dan berkembang biak?

Anoman sendiri membagi dunia menjadi empat jaman sebagaimana yang dia ajarkan kepada muridnya Bima dalam Mahabarata versi Jawa Kuna, yakni pada bagian Tritayatra Parwa. Empat Jaman Anoman tidaklah berdasarkan perkembangan alat-alat produksi dan hubungan produksi sebagaimana yang digambarkan kalangan Marxis: Komunisme Primitif, Feodalisme, Kapitalisme dan Sosialisme-Komunisme tetapi berdasarkan perkembangan moral umat manusia yang semakin jahat dan jaman pun akan berakhir. Tetapi bagaimana akhir jaman atau kiamat itu berlangsung tidaklah diceritakan.

Zaman di dunia menurut Anoman adalah:

Zaman Kreta atau Kretayuga, yakni zaman keutamaan yang sempurna. Di dunia hanya ada satu agama, tidak ada kejahatan, belum ada tradisi jual beli, yang ada hanya memberi dan menerima. Setiap manusia menjalankan kewajiban (derma) masing-masing dengan sebaik-baiknya, tanpa ada rasa iri atau sirik pada orang lain. Semua manusia mempunyai kedudukan sama terhadap manusia lainnya.

Zaman Tirta atau Tirtayuga, yakni ketika di dunia ini mulai terdapat orang-orang yang berhati jahat. Seperempat penduduk dunia menjadi orang yang berperilaku dengki, iri dan suka mengambil yang bukan miliknya. Yang baik hanya tinggal tiga perempat bagian saja. Pada zaman ini muncul kebiasaan orang mengadakan sesaji, dan timbul berbagai macam agama. Pada zaman Tirta pula dimulai adanya pembagian golongan masyarakat: golongan brahmana, ksatria, waisya, dan sudra.

Zaman Dupara atau Duparayuga, ketika manusia di dunia ini terbagi menjadi dua bagian. Yang separuh menjadi orang jahat dan separuh sisanya tetap baik. Jumlah agama makin banyak, tetapi yang memperhatikan kaidah dan norma agama itu makin sedikit. Banyak orang bertapa dan mencari kesaktian, namun sebagian dari mereka bertujuan buruk. Orang yang ingin berbuat kebaikan makin banyak godaan dan halangannya.

Zaman Kali atau Kaliyuga, yakni zaman di mana keburukan menang atas kebaikan. Golongan manusia yang masih berjalan di jalan keutamaan tinggal seperempat bagian saja. Sisanya sudah menjadi orang jahat. Agama, walaupun makin banyak macamnya, seakan sudah tidak lagi dipedulikan orang. Banyak orang malas, tetapi mereka selalu iri pada keberhasilan orang yang rajin. Orang takut melarat, tetapi tidak berusaha untuk menjadi kaya. Zaman ini adalah zaman ketika usia dunia telah tua, telah mendekati akhir zaman. (lihat juga di http://ketinggiannilaibudaya.blogspot.com/2012_10_01_archive.html)

 

Atas nama bosan hidup; bosan ningali gelaring jagad alias jeleh urip itulah Anoman ingin mati dan bertanya kapan ajalnya tiba? Setelah melewati perjalanan hidup yang panjang, pergi dari kota ke kota, menjalankan tugas melawan angkara murka,  Anoman pun dijanjikan oleh Sang Hyang Wenang akan gugur dalam tugas yaitu dalam pertempuran di Tanah Jawa pada masa Raja Kediri, Jayabaya. Sebab katanya, tidak baik prajurit meninggal di tempat tidur.  Kamu bisa juga mengikuti kisah ini dalam lakon Anoman Takon Swargahttp://www.4shared.com/dir/12670245/a8b8dbce/Anoman_Takon_swarga.html#dir=p556jPss

***

Aku pun sampai di Kota Banjarmasin. Tak ada dirimu. Orang asing yang baru kukenal mengajak  diriku ke Pulau Kembang, di Kecamatan Alalak, Barito Kuala,  di sebelah barat Kota Banjarmasin.

“Kalau kita berangkat pagi-pagi, sekitar jam setengah lima,  kita bisa mampir sarapan Soto Banjar di atas perahu motor dan belanja berbagai hal di atas perahu.”

“Wah..menyenangkan!”

“Di sana, doa-doa dan permohonan dikabulkan,” kata orang asing menyakinkan diriku.

“Oya? Engkau sendiri berdoa di sana?”

Orang asing tidak menjawab.

Pagi, setelah dua jam matahari terbit. Kami sampai di Pulau Kembang. Pulau Kembang  adalah sebuah delta yang terletak di tengah sungai Barito.

“Bagaimana pulau ini bisa disebut Pulau Kembang?” tanyaku kepada kawan baruku.

“Mengapa?”

“Pulau ini lebih tepat disebut Pulau Kera,” jawabku sambil melihat betapa banyak kera ekor panjang alias monyet-monyet berkeliaran di sana sini bahkan berani meloncat pada perahu motor yang baru tiba.

Kami pun dihadapkan pada Altar merah tempat pemujaan dengan kembang-kembang sesaji yang bertaburan diapit dua patung kera putih: Anoman, sebelum lebih jauh memasuki kawasan hutan.

“Jadi di sinikah doa-doa itu dikabulkan?” tanyaku.

“Ya. Kebanyakan masyarakat dari etnis Tionghoa-Indonesia yang sering berdoa di sini. Dahulu, bila ada doa yang terkabul, seekor kambing jantan yang tanduknya dilapisi emas biasanya dilepaskan ke dalam hutan pulau Kembang. Aku tak tahu apakah tradisi ini masih berlangsung  sampai sekarang,” jelasnya.

“Untuk apa dirimu ke Pulau Kembang?”

“Kamu tahu kan? Kaum perempuan itu takut pada monyet-monyet. Jadi kalau kita ajak ke sini, perempuan akan selalu meloncat dan memeluk kita. Langkah selanjutnya akan lebih mudah. Hahaha,” jawabnya terbahak. Lalu tanyanya tanpa memandangku: “Apakah kamu akan meletakkan sesaji di Altar Anoman dan mengajukan permohonan?”

Aku tak menjawab. Pikiranku penuh dengan pertanyaan: bagaimana Anoman bisa sampai di Pulau Kembang? Apakah para penyebar Hinduisme atau perantau Jawa yang membawanya?

***

Orang-orang terus berdatangan ke Pulau Kembang. Ada yang berwisata, berpacaran, melepas lelah; ada juga yang berharap doa-doanya dikabulkan di depan Altar pemujaan untuk Anoman, sang penjaga Pulau Kembang. Setiap kali orang hendak memasuki kawasan hutan di Pulau Kembang mau tak mau akan melewati altar  merah tempat pemujaan pada Anoman. Di India yang Hindu, Anoman adalah dewa karena itu dipuja dan disembah. Kuil-kuil pun didirikan untuk memuja dan menghormati Anoman. Berikut adalah kuil-kuil Anoman yang terkenal kuambil dari Wikipedia (http://id.wikipedia.org/wiki/Hanoman)

Semoga dengan membaca ceritaku ini, orang-orang yang datang ke Pulau Kembang dan melewati Altar Anoman teringat pada sosok yang selalu setia di jalan kebaikan di sepanjang jalan hidupnya atau pulang dengan semangat baru: mulih-pulih, menjadi muda untuk esok yang lebih baik dari hari ini.

***

“Kesetaraan apa yang kamu maksud?” teman lamaku yang asli orang Banjar menjawab di inbox Fb sesudah aku sampai di Jakarta dan langsung masuk satu pesan lagi:”Sorry, kita tidak sempat bertemu. Tentu masih banyak waktu. Kamu akan datang lagi kan? Jangan langsung ke Tabalong. Tetap mampirlah ke Banjarmasin.”

“Kesetaraan dalam kerangka gender; penghapusan perlakuan yang diskriminatif  terhadap perempuan,”  balasku via inbox dan aku teringat pada teman Dayakku;  buru-buru aku tambahkan,” tapi juga bisa diartikan perlakuan yang adil dan setara terhadap kepercayaan leluhur yang kamu sebut tradisional yang seringkali dipaksa untuk dimasukkan ke dalam lima agama seperti yang diakui Orde Baru.”

Segera tak berbalas.

“Jadi doa-doa apa yang kamu lambungkan di Altar Anoman?” pesan kawan baruku pun mendesak. Juga di inbox Fb.

“Apakah kamu berharap dan berjuang untuk Keadilan Energi, Listrik yang menyala untuk membangun Industri Nasional, Kesetaraan untuk memperoleh pendidikan, kesehatan dan menjalankan ibadah?”

Tak segera ada jawaban.

“Kalau memang begitu harapanmu dan perjuangan hidupmu, kita penuh sebagai Kawan.”

Pulau Kembang, Akhir September 2013 – Jakarta, Akhir November 2013

 

AJ SusmanaKoordinator Departemen Keuangan Komite Pimpinan Pusat Partai Rakyat Demokratik (KPP-PRD)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut