Abu Dzar Al-Ghifarri dan Perlawanan Terhadap Keserakahan

Saya akan menuliskan soal gerakan rakyat yang pernah melakukan pemberontakan dalam melawan kesewenang-wenangan. Kembali menggunakan apa yang ditulis oleh Milan Kundera, “Perjuangan Melawan Penindasan adalah Perjuangan Melawan Lupa”.

Sejarah adalah sejarah pemenang. Inilah yang terjadi dalam penulisan sejarah. Pemberontakan seakan-akan menjadi noda dalam kemegahan sejarah sebuah bangsa, kerajaan atau dinasti. Inilah yang terjadi juga dalam sejarah Islam pasca Nabi dan Khulafa ar-Rasyidin, kisah seperti Abu Dzar melawan penguasa zalim masa itu seakan-akan hilang ditelan bumi.

Padahal, kisah tersebut mengambarkan kepada kita bahwa penguasa yang zalim walau ia adalah seorang khalifah maka harus dilawan. Penindasan kepada manusia yang lain haruslah dilawan tidak lagi memandang persoalan agama, ras, ataupun suku. Sebagaimana dawuh Gus Dur “ketika kamu melakukan kebaikan, maka tidak ada lagi yang menanyakan apa agamamu.”

Jika kita banyak mengenal Abu Dzar sebagai salah satu perawi paling tersohor maka itu tidaklah salah, namun pernahkah kita mendengar sebuah hadis yang memuat pesan Rasulullah SAW kepada Abu Dzar: “cintailah kaum miskin dan dekatilah mereka”, dan inilah yang selalu dipegang oleh Abu Dzar sepanjang hidupnya

Abu Dzar pernah menegur beberapa sahabat dari kaum Quraisy yang sedang duduk melaksanakan halaqoh (duduk melingkar), kemudian dia berkata bahwa orang yang hidup berkelebihan adalah orang yang diancam dengan siksa yang sangat pedih, dan tak seorangpun menanggapi kehadiran Abu Dzar. Kemudian ada salah seorang mengejarnya dan menjelaskan kepadanya bahwa apa yang dia sampaikan itu tidak disukai oleh orang-orang tersebut.

Abu Dzar pun dengan semangat menjelaskan bahwa apabila dia memiliki harta berupa gunung emas sebesar gunung Uhud, maka ia akan menyedekahkannya dan cuma meninggalkannya sebesar 3 dinar hanya untuk keperluannya. Itulah sosok Abu Dzar yang sangat revolusioner, yang tidak ingin melihat kekayaan hanya bertumpuk di beberapa orang saja. Bagi Abu Dzar, menyimpan harta melebihi keperluan dirinya hukumnya adalah haram. Sedangkan umum masa itu persoalan hak milik masih dibolehkan, asal dikeluarkan zakatnya.

Bahkan di salah satu riwayat, kritik inilah yang membuat Muawiyah yang pada masa itu menjadi gubernur di Syam sangatlah marah akan kritik-kritik dari Abu Dzar. Inilah yang yang membuatnya dilaporkan kepada khalifah masa itu, yaitu Usman Bin Affan, yang pada akhirnya menegurnya dengan santun sesuai dengan karakter Utsman dan meminta Abu Dzar tinggal di Madinah, menjadi orang dekat khalifah. Namun Abu Dzar malah izin untuk meninggalkan Madinah dan menetap di Rabadzah, sebuah tempat di padang pasir. Ketika Utsman menawarkan beberapa ekor ternak dan budak untuk membantunya di sana, Abu Dzar hanya menerima hewan ternak dan menolak budak yang ditawarkan oleh Utsman. Jika Soe Hok Gie menuliskan adagium “Lebih diasingkan daripada menyerahpada kemunafikan” tadi di masa modern, beberapa ratus tahun sebelumnya Abu Dzar telah melakukannya.

Perjuangan dari Abu Dzar ini sangatlah legendaris dan jarang sekali diceritakan, mungkin tak banyak orang yang mau mencontohnya dan menjadikan Abu Dzar sebagai panutan. Sebab, hidup dalam kemelaratan dan dekat dengan kaum miskin sangat jarang menjadi pilihan orang. Penolakannya kepada semua yang berbau keserakahan dipertahankannya sampai meninggal. Bahkan seorang Abu Musa Al-Asy’ari pun ditolaknya untuk mengakuinya sebagai saudara karena telah bekerja menjadi pejabat pemerintah dan memperkaya dirinya. Abu Hurairah pun harus mendapatkan perlakuan yang sama. Namun setelah ia tidak melakukan memperkaya diri, maka Abu Dzar menyambutnya sebagai saudara.

Bahkan saat meninggalpun Abu Dzar meminta kepada orang yang tidak pernah bekerja, menerima pekerjaan atau menjadi wakil pemerintah. Karena baginya pemerintah hanyalah sebuah representasi keserakahan dan keinginan berkuasa. Jika ulama kita saat ini masih banyak bergaul dengan para pemilik modal atau orang kaya, maka kita semua perlu baca sejarah hidup dari Abu Dzar.

Apa yang dilakukan oleh Abu Dzar seakan-akan menampar kita semua yang masih hidup dalam keberlebihan harta. Abu Dzar yang sangat sederhana atau bahkan bisa dikatakan melarat sangat konsisten dalam memperjuangkan keadilan dalam kepemilikan sosial. Bagi Abu Dzar, tidak ada yang nama hak istimewa, karena baginya semua manusia adalah memiliki hak yang sama; tidak ada dibeda-bedakan dari suku, ras, golongan atau keturunan.

Apa yang dilakukan oleh Abu Dzar ini, kembali diperjuangkan oleh sebuah komunitas yang akhirnya menjadi saingan penguasa masa itu, yaitu Qaramitah. Gerakan ini lahir di masa kekuasaan Abbasiyah yang memberontak dengan menggalang massa untuk menentang keserakahan yang dilakukan oleh rezim penguasa masa itu.

Jika kita membaca sekilas sejarah awal dari gerakan Qaramitah, memanglah sangat kelam dan gelap. Mereka beberapa kali melakukan pemberontakan dan pernah mengacaukan pelaksanaan ibadah Haji dan menyerang ka’bah. Namun saya di sini ingin memperlihatkan bagaimana pola gerakan ini dibangun. Gerakan ini memang dianggap sebagai sempalan dari Ismailiyah yang menguasai daerah Bahrain.

Gerakan ini didasarkan para petani dalam kemiskinan dan kemalangan yang dalam, atau istilah mereka adalah Nabath (dalam bahasa armaik kuno merujuk pada para petani). Menyebut mereka sebagai orang yang “beriman kepada Allah, mendukung agamaNya dan berbuat baik”.

Mereka juga gerakan yang sangat humanis, dimana gerakan mereka adalah kembalinya manusia ke substansinya sebagai manusia social dari manusia yang berorientasi pada sekte ataupun ras atau dengan kata lain “no racism or no sectarianism”. Dengan demikian, gerakan Qaramitah – gerakan revolusioner – yang digerakkan oleh satu gagasan, meruntuhkan kesewenang-wenangan pemerintahan yang despotik. Karena Qaramitah merupakan representasi orang-orang yang tertindas rezim.

Disinilah kita bisa melihat bahwa perjuangan melawan keserakahan dan rezim menindas adalah sebuah keniscayaan dalam sejarah Islam. Kalau Ziaul Haque pernah menuliskan sebuah buku yang sangat indah berjudul “Wahyu dan Revolusi”, di mana dalam buku tersebut menceritakan bahwa sejarah para Nabi adalah sejarah perlawanan melawan penindasan. Agama adalah melawan penindasan dan keserakahan.

Dengan kebisingan pembelaan Islam beberapa kali yang lalu dan kemudian dilanjutkan pembelaan kepada ulama, pernahkah kita bertanya apakah gerakan-gerakan ini adalah memperjuangkan mereka yang tertindas dan terpinggirkan, atau mereka yang sedang berjuang melawan ketidak adilan. Entahlah, atau malah kita terjebak dalam sebuah kebisingan yang diciptakan oleh oligarki yang mengambil keuntungan dari semua kebisingan ini.

Masalah-masalah ekologi yang sudah sangatlah parah, kemiskinan yang hanya diobati dengan perayaan-perayaan sesaat dan menjadi pencitraan para penguasa, pendidikan yang hanya melihat dari sisi komoditas dan sisi orang dewasa. Masalah- masalah ini sudah menumpuk di hadapan kita, namun kita malah meributkan kenapa tidak membolehkan seorang ustadz memiliki sebuah mobil mewah. Ah, sudahlah, yuk baca, resapi dan bergeraklah layaknya Abu Dzar.

Supriansyah, pegiat isu-isu kedamaian dan sosial di Kindai Institute Banjarmasin

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut