Abraham Lincoln Dan Penghapusan Perbudakan

Lincoln (2012)
Sutradara: Steven Spielberg
Penulis : Tony Kushner
Tahun Produksi: 2012
Durasi : 2 jam 25 menit
Pemain: Daniel Day-Lewis, Sally Field , David Strathairn,  Hal Holbrook, Tommy Lee Jones .

Sebuah bangsa haruslah dibangun di atas dasar persamaan. Tanpa itu, bangsa akan segera retak. Karena itu, proyek membangun bangsa tidak mentolelir adanya perbudakan.

Presiden Amerika Abraham Lincoln, yang berkuasa dari tahun 1861 hingga 1865, sangat menyadari hal itu. Semasa hidupnya, Lincoln dikenal sebagai penentang perbudakan. Dia berusaha menyembuhkan bangsanya dari luka perbudakan melalui proklamasi emansipasi pada tahun 1862.

Namun, perjuangan Lincoln tidaklah gampang. Ia harus berhadapan dengan kepentingan klas berkuasa AS, yang kemudian memisahkan diri dan membentuk “Konfederasi Amerika” di bagian selatan. Alhasil, bangsa Amerika terjerembab dalam perang sipil selama 4 tahun. Data resmi menyebutkan, sekitar 600.000 orang gugur dalam perang sipil itu.

Sutradara kenamaan AS, Steven Spielberg, berusaha mengangkat secuplik kisah tersebut dalam film terbarunya, Lincoln (2012). Film ini berusaha meceritakan secara detail perjuangan Lincoln dan sekutunya untuk menggolkan amandemen ke-13 Konstitusi AS, yang menghapuskan total segala bentuk perbudakan.

Pada 1862, Lincoln sebetulnya sudah membacakan proklamasi emansipasi, yang menegaskan bahwa seruruh budak di selatan selama perang dinyatakan bebas. Tapi, dalam fikiran Lincoln, kalau perang usai, budak-budak yang sudah dibebaskan itu kembali diperbudak. Karena itu, ia mengusulkan agar konstitusi diamendemen untuk menghapus total perbudakan.

Di film ini, Lincoln (Daniel Day-Lewis) digambarkan sebagai seorang politisi karismatik, tenang, bijaksana, cerdas. Di sisi lainnya, dalam berbagai pembicaraan, baik resmi maupun tidak resmi, Lincoln digambarkan suka mendongen atau membuat metafora-metafora.

Lincoln juga seorang ahli strategi. Bersama sekretaris negara-nya, William Seward, Lincoln meramu strategi untuk memenangkan voting terkait amandemen konstitusi itu. Maklum, rencana amandemen ini mendapat oposisi luas. Partainya Lincoln sendiri, yaitu partai Republik, terbelah antara konservatif dan radikal.

Menghadapi keadaan itu, Lincoln harus mengambil strategi jitu: merangkul yang bisa dirangkul sembari terus mengisolasi musuh pokok. Ia kemudian merangkul pemimpin Republik dari sayap konservatif, Preston Blair, dan menunjuknya sebagai wakil dalam perundingan rahasia dengan pihak selatan (konfederasi). Taktik ini diambil untuk memastikan kesatuan Republik mendukung amandemen.

Ia juga melobi pemimpin sayap radikal, Thaddeus Stevens, supaya melunakkan retorikanya. Dengan begitu, kelompok moderat bisa tetap berbaris di belakang pro-amandemen. Steven sendiri pendukung kesetaraan dalam segala hal. Kepada Steven, Lincoln bilang, yang terpenting menghilangkan perbudakan dulu, dan baru setelah itu bisa memperjuangkan yang lebih besar.

Yang menarik, atas sepengetahuan Lincoln, dibentuk tim khusus—terdiri dari tiga orang—yang bertugas melobi dan menyuap anggota Partai Demokrat yang terlihat goyah. Jadi, ketika forum parlemen berlangsung, tim ini mengintai setiap anggota demokrat yang terlihat goyah. Setelah itu, tim ini akan mendekati, membujuknya, dan—kalau perlu—menyuapnya.

Film ini juga memperlihatkan, melalui gambar perdebatan di parlemen, bagaimana sistem perbudakan dibela habis-habisan oleh kaum kaya dan pemilik budak. Tak jarang, seperti dilakukan oleh politisi Demokrat dari New York, Fernando Wood, dalil-dalil Tuhan disalah-gunakan untuk melegitimasi ketidaksetaraan antar manusia.

Tanggal 31 Januari 1865 voting dilakukan. Dan, setelah berusaha dijegal oleh pihak oposisi, voting tetap berlangsung. Kubu pro-amandemen menang dengan 119 suara melawan 6 suara. Kemenangan ini disambut dengan suka-cita oleh rakyat Amerika.

Selain menggambar soal perang melawan perbudakan, film ini juga berusaha memotret Lincoln dalam keluarganya. Seorang anaknya, Robert Todd Lincoln, ingin sekali bergabung dengan tentara dan membela negaranya. Tetapi Lincoln dan istrinya, Mary Todd Lincoln (Sally Field), tidak setuju dengan keinginan itu. Kita lihat dalam beberapa adegan, bagaimana Lincoln sebagai manusia biasa berhadapan dengan istri dan anaknya: ada konflik dan kebahagiaan.

Tak jarang sebuah perjuangan meminta martir. Dan, dalam perjuangan menghapus perbudakan di AS, Abraham Lincoln yang menjadi salah satu martirnya. Pada 14 April 1865, saat sedang menyaksikan pertunjukan teater, Abraham Lincoln ditembak oleh oleh seorang pemain teater, John Wilkes Booth, yang disusupkan oleh kelompok pro-perbudakan.

Film ini punya kelemahan. Beberapa tokoh anti-perbudakan, seperti Frederick Douglass, yang juga sering bekerjasama dengan Lincoln, tidak dimunculkan dalam film ini. Selain itu, karena hanya menyorot satu sudut, yakni perdebatan amandemen konstitusi, maka peranan pejuang rakyat kulit hitam tidak kelihatan.  Kecuali sosok dua kulit hitam yang menjadi pelayan di gedung putih, Elizabeth Keckley and William Slade, yang juga terlibat dalam gerakan abolisme.

Timur Subangun

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut