90 Tahun PKT Memperjuangkan Sosialisme Berkarakter Tiongkok

Sejak pagi tadi, 1 Juli 2011, seluruh daratan Tiongkok sedang mengharu-biru dengan peringatan ke-90 partai berkuasa di negeri berpenduduk 1,3 milyar itu: Partai Komunis Tiongkok (PKT). Warna merah dan bendera palu-arit menghiasi seantero negeri yang dianggap ‘membelot ke jalan kapitalisme’ itu.

Akan tetapi, uniknya, kendati dianggap sudah memeluk jalan kapitalis dengan reformasi ekonominya, tetapi peringatan HUT ke-90 PKT tahun ini justru berusaha menegaskan satu hal pokok: PKT masih berjuang keras untuk mewujudkan masyarakat sosialis.

Peringatan HUT PKT tahun ini benar-benar dilakukan besar-besaran, bahkan melebihi peringatan HUT Republik Rakyat Tiongkok (RRT) sendiri. Di kota Beijing, sebuah tugu berlambang palu arit dibangun di tengah lapangan Tian’anmen, tempat yang menjadi simbol gerakan pro-demokrasi pada tahun 1989.

Di Yan’an, Provinsi Shaanxi, rakyat setempat menyanyikan lagu-lagu rakyat dan membuat pertunjukan kolosal tentang perjuangan partai selama 90 tahun. Di provinsi Jilin, di daerah Tiongkok bagian timur, 1,2 juta orang menyanyikan lagu-lagu revolusi secara bersama-sama.

Di kota Yushu, Provinsi Qinghai, kota yang sempat hancur lebur karena gempa tahun lalu, ribuan rakyatnya telah berpartisipasi dalam peringatan dan menyanyikan lagu-lagu partai komunis.

Peringatan HUT ke-90 PKT juga ditandai dengan peluncuran 28 film baru tentang sejarah partai dan perjuangan menuju Tiongkok baru. 28 film itu akan diputar selama bulan Juni hingga bulan Juli mendatang.

Diantara film itu adalah : “The Founding of a Party”, “The Seal of Love”, “Young Deng Enming”, “Sky Fighters”, “China Three Gorges” dan  film “Xibaipo”.

Peringatan-peringatan semacam ini terjadi diseluruh pelosok Tiongkok. Kegiatan-kegiatan itu bukan hanya dimotori oleh pejabat pemerintahan dan anggota partai, tetapi juga disponsori sendiri oleh rakyat biasa. Semuanya ini, tentu saja, tidak terlepas dari kemajuan signifikan yang dicapai Tiongkok dibawah pimpinan partai komunis.

Sosialisme berkarakter Tiongkok

Dalam pidato sambutannya di hadapan 5000 orang saat peringatan HUT PKT, Presiden Hu Jintao telah menekankan kembali pentingnya rakyat Tiongkok meningkatkan pembangunan sosialisme berkarakter tiongkok.

Menurut Hu Jintao, ‘jalan sosialisme dengan karakter Tiongkok’ adalah satu-satunya jalan bagi Tiongkok untuk mencapai modernisasi sosialis dan menciptakan kehidupan yang layak bagi seluruh rakyatnya.

Sekretaris Jenderal PKT ini pun meminta agar partainya tetap menjungjung tinggi panji-panji sosialisme berkarakter Tiongkok, memperluas dan menjaga sosialisme ala Tiongkok, dan memperkaya teori sosialisme yang berkarakter Tiongkok.

Tidak ketinggalan dalam pidatonya Hu Jintao menyinggung soal pentingnya menjunjung tinggi teori marxisme. “Kami komunis Tiongkok sangat percaya bahwa marxisme adalah teori yang tak terbantahkan kebenarannya. Tetapi marxisme harus terus-menerus diperkaya dan dikembangkan dalam praktek,” ujar Hu Jintao menjawab tudingan banyak kalangan bahwa PKT telah melucuti marxisme sebagai baju ideologisnya.

Hanya saja, menurut Hu Jintao, supaya marxisme tidak jatuh sebagai dogma kosong dan kaku, maka marxisme harus diletakkan kondisi historis yang baru. “Perlu untuk memahami kondisi-kondisi baru dalam lapangan praktek dan menyiapkan panduan ilmiah terhadap praktek baru tersebut,” tegasnya.

Adapun sosialisme berkarakter Tiongkok, menurut Hu Jintao, adalah sebagai berikut: sistem kongres Rakyat Tiongkok sebagai sistim politik paling mendasar Tingkok;

Kemajuan pesat

Bersamaan dengan hari peringatan partai Komunis ke-90, sebuah jembatan terpanjang di dunia diresmikan, yaitu jembatan Jiaozhou.

Jembatan baru ini memiliki panjang 40 kilometer, dan diharapkan akan menjadi pembuka lalu-lintas di Tiongkok Timur, tepatnya di Provinsi Shandong.

Dalam usianya yang ke-90 tahun, PKT telah beranggotakan 80 juta orang atau hampir setara dengan jumlah penduduk Jerman sekarang ini. Selain itu, ekonomi Tiongkok telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia saat ini.

Berhadapan dengan kemajuan sekarang, sebagian orang pun mencoba mengingat kembali kehidupan sulit  puluhan tahun yang lalu.

Huifen Zhang, seorang pensiunan pekerja di Beijing, telah menjadi anggota partai komunis selama 30 tahun. Zhang masih mengingat, pada tahun 1970, ketika masih bersekolah dirinya hanya diberi jatah 0,25 kilogram beras dan terigu.

Sekarang ini, kata Zhang, orang-orang muda sudah bebas untuk memilih berbagai jenis makanan.

Qiao Lin, salah seorang perempuan Tiongkok yang kini berusia 54 tahun, mengaku pada usia 18 tahun hanya menggunakan celana dan sepatu yang ditambal. “Kami perlu kupon untuk mendapatkan pakaian. Dan warna pakaian pun terbatas hanya ada warna biru, putih dan hitam,” ingat Lin.

Sekarang, meski Qiao Lin sudah tidak peduli dengan gaya berpakaian, tetapi ia tahu bahwa orang akan sangat mudah menemukan pakaian dari berbagai model di toko.

Tetapi, baik Zhang maupun Qiao mencatat masih banyak masalah di bawah kepemimpinan partai komunis saat ini, terutama persoalan korupsi dan kesenjangan yang kian lebar antara si kaya dan si miskin.

Namun, kekhawatiran orang seperti Zhang dan Qiao sudah dijawab Hu Jintao dalam pidatonya saat peringatan HUT ke-90 PKT. Menurutnya, PKT harus terus bersemangat untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat dan memastikan masa depan pembangunan masyarakat sosialis yang harmonis.

Untuk itu, kata Hu Jintao, partai akan memprioritaskan penyediaan pekerjaan dalam pembangunan ekonomi dan sosial, mempercepat pembangunan pendidikan, jaminan sosial, jaminan kesehatan obat-obatan, perumahan untuk mereka yang berpendapatan rendah, dan program sosial lainnya.

Soal pemberantasan korupsi, point ini juga menjad inti pidato Hu Jintao. Menurutnya, partai harus merangi korupsi, sebagai suatu cara untuk terus mendapatkan dukungan dan kepercayaan dari rakyat.

Melanjutkan reformasi ekonomi

Terkait kemajuan pesat yang dicapai Tiongkok dalam 30 tahun terakhir, Hu Jintao menggaris-bawahi bahwa itu berkat kebijakan reformasi dan keterbukaan.

“Sebuah revolusi besar baru sedang dilaksanakan rakyat Tiongkok di bawah kepemimpinan PKT dalam tahap yang baru, reformasi dan keterbukaan adalah pilihan kritis untuk memastikan masa depan Tiongkok,” kata Hu Jintao.

Reformasi dan keterbukaan Tiongkok saat ini berpijak pada fikiran marxisme sebagai pijakan oleh Mao Tse Tung, teori modernisasi-nya Deng Xiaoping, pikiran “Tiga Perwakilan” dari Jiang Zemin yang merangkul kelas pemilik modal, dan pikiran strategis tentang pandangan ilmiah yang ditelorkan Hu Jintao.

Dengan begitu, kendati Tiongkok memeluk jalan ‘pembangunan sosialisme melalui ekonomi pasar’, tetapi negeri berpenduduk 1,3 milyar itu mengaku bahwa hal tersebut tidaklah berpengaruh pada sistem sosialis mereka.

Tetsuzo Fuwa, pimpinan partai Komunis Jepang, malah mengingatkan bahwa pembangunan ‘sosialisme melalui ekonomi pasar” yang ditempuh oleh Tiongkok adalah tepat dengan apa yang Lenin usulkan namun dibuang oleh Stalin.

“Ini adalah jalan yang belum pernah ditempuh, jadi akan ada banyak kesulitan yang tak terduga di tengah jalan. Walau begitu saya tidak ragu bahwa hasil dari uji coba ini akan memberikan dampak yang besar terhadap arah yang akan ditempuh dunia dalam abad ke-21,” katanya.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut