5 Hal Yang Patut Anda Ketahui Tentang Konferensi Perubahan Iklim (COP) ke-21

Capaian dari Konferensi PBB tentang perubahan iklim (Conference of Parties/COP) ke-21  di Paris adalah mencapai kesepakatan internasional yang mengikat untuk menjaga pemanasan global di bawah suhu 2 derajat celcius.

Sementara para pemimpin dunia sedang berkumpul di Paris, Perancis, untuk Konferensi Perubahan Iklim selama dua minggu, ini ada 5 hal yang anda patut ketahui tentang perubahan iklim dan apa yang akan dibicarakan di pertemuan tersebut.

Pertama, dampak perubahan iklim sudah sangat merusak di seluruh dunia

Dampak perubahan iklim sudah terasa di seluruh belahan dunia. Mulai dari kekeringan parah yang memanggang California dan Amerika tengah, angin topan raksasa yang berulangkali menghantam Philipina, gelombang panas yang menerjang India dan Pakistan, hujat lebat yang membajiri gurun di Chili, dan masih banyak contoh lainnya. Perubahan cuaca sangat ekstrem ini adalah bukti bahwa tindakan global untuk mengatasi perubahan iklim lebih mendesak sekarang ketimbang sebelumnya.

Di tahun 2014, tingkat level karbon dioksida dan gas rumah kaca di atmosfer sudah menciptakan iklim yang “tidak terpetakan”. Sementara di tahun 2015 ini berada di kecenderungan “tahun terpanas” dalam catatan sejarah. Para ilmuwan mengatakan, perubahan cuaca secara ekstrem, seperti banjir, kebakaran hutan, dan badai topan raksasa, akan terus meningkat dalam frekuensi dan intensitasnya.

Terlebih lagi, para pakar mengatakan bahwa kondisi cuaca yang semakin tidak ramah dan menciutnya jumlah sumber daya yang dipicu oleh perubahan iklim akan memperburuk ketidakamanan ketersediaan pangan global dan konflik energi berujung kekerasan.

Kedua, tujuan dari Konferensi Perubahan Iklim ke-21 ini adalah mencapai kesepakatan global yang mengikat untuk menjaga pemanasan global di bawah 2 derajat celcius

Para ilmuwan mengatakan bahwa tingkat pemanasan 2 derajat celsius adalah ambang batas penting untuk memastikan temperatur global agar tidak mencapai titik yang membahayakan kehidupan manusia dan membawa bencana yang merusak. Sejauh ini, janji pengurangan emisi bangsa-bangsa jauh dari harapan ini: masih bertahan di target 3 derajat celcius.

Laporan program lingkungan PBB baru-baru ini menyatakan bahwa janji sukarela 146 bangsa untuk mengurangi emisi hanya mengurangi sepertiga dari produksi gas rumah kaca di tahun 2030 yang dibutuhkan itu mencegah bumi ini terlalu panas. Itupun kalau janji tersebut ditepati.

Itulah pentingnya Konferensi Perubahan Iklim ke-21 bisa mencapai kesepakatan secara legal dan mengikat untuk memaksa negara-negara yang bertanggung-jawab untuk berkotmimen mengurangi emisi mereka. Apalagi, Konferensi Perubahan Iklim ke-16 tahun 2009 lalu di Kopenhagen dianggap gagal karena tidak menghasilkan kesepakatan yang mengikat. Banyak yang berharap Konferensi Perubahan Iklim ke-21 tidak mengulang kesalahan ini.

Ketiga, Perancis melarang semua aksi dan protes di Konferensi Perubahan Iklim di Paris

Dengan merujuk pada serangan teroris di kota Paris, tanggal 13 November lalu, yang menewaskan sekitar 130-an orang, pemerintah Perancis menggunakan alasan keamanan untuk melarang semua aksi protes dan pawai di Konferensiu Perubahan Iklim ke-21 ini.

Para aktivis sudah menuntut Presiden Perancis Francois Hollande untuk membatalkan larangan ini dan mengijinkan berbagai kelompok gerakan sosial menggelar aksi demonstrasi di Paris. Banyak kekhawatiran bahwa pelarangan ini hanya untuk membungkam para aktivis dan membatasi suara rakyat untuk mempengaruhi pembicaraan di Konferensi Perubahan Iklim dengan dalih keamanan. Jika hal itu terjadi, legitimasi di Konferensi Perubahan Iklim ke-21 ini akan berkurang.

Naomi Klein, penulis buku “This Change Everything” menulis di media sosial, bahwa Presiden George Bush saja tidak melarang demonstrasi pasca kejadian serangan September 2001.

Meski demikian, meski semua rencana protes akhirnya dibatalkan, para aktivis punya cara kreatif untuk menunjukkan suara mereka. Pada malam pembukaan KonferensiPerubahan Iklim, para aktivis menaruh puluhan ribu sepatu di Place de la Republique, Paris, sebagai simbol yang kuat dan bahwa 10.000 orang akan membentuk rantai manusia sepanjang 2 mil di rute aksi yang sudah direncanakan sebagai pusat aksi global untuk perubahan iklim ini.

Keempat, keadilan iklim dan perbaikan iklim tidak menjadi agenda Konferensi Perubahan Iklim ke-21 ini

Negara-negara industri maju dan korporasi adalah pihak yang paling bertanggung jawab menyebabkan pemanasan global, tetapi negara-negara miskin di selatan harus menanggung beban akibat perubahan iklim itu. Itulah mengapa gerakan sosial dan sejumlah pemimpin negara selatan mendorong kesepakatan untuk mengakui secara historis “kontribusi yang tidak sama” dalam menyebabkan pemanasan global ini. Selanjutnya, mereka mengajukan konsep “keadilan iklim”.

Ekuador dan Bolivia, misalnya, berpendapat bahwa negara-negara kaya dan korporasi besar harus bertanggung jawab atas pemanasan global dengan membayar “utang iklim” dan membantu transisi negara miskin meninggalkan “energi kotor”. Sementara konsep “perbaikan iklim” bersandar pada ekonomi ekstraktif progressif yang mendorong energi bersih tanpa mengabaikan kontribusi ekstraktif melalui kebijakan sosial dan redistributif.

Tetapi isu perbaikan iklim tidak masuk dalam agenda KTT Perubahan iklim ini. Sementara negara-negara G-7 tidak punya ide “keadilan iklim” dalam mendorong kesepakatan. Banyak negara, terutama yang berkontribusi paling besar dalam pemanasan global, ingin berkomitmen mengurangi emisi mereka lebih dari apa yang dikehendaki oleh dunia.

Kelima, banyak perusahaan pencipta polusi terbesar yang tidak berkepentingan dengan isu perubahan lingkungan menjadi sponsor KonferensiPerubahan Iklim ini

Problem Konferensi Perubahan Iklim 2015 ini adalah adanya potensi konflik kepentingan dari perusahaan-perusahaan raksasa yang bertanggung-jawab dalam pencemaran lingkungan dan pemanasan global. Corporate Accountability International mencatat, banyak korporasi pelaku pencemaran menjadi sponsor Konferensi Perubahan Iklim kali ini.

Perusahaan yang mensponsori Konferensi Perubahan Iklim 2015 ini termasuk Engie (dulunya GDF Zues), Suez Environnement, BNP Paribas, dan Electricite de France, yang mempunyai perusahaan “oil sands”, batubara, shale gas, dan privatisasi air. Singkat cerita, perusahaan sponsor Konferensi Perubahan Iklim ini adalah mereka yang memetik keuntungan yang menyebabkan pemanasan global/perubahan iklim.

Corporate Accountability International berpendapat, konglomerat dari sektor energi fosil dan penjahat iklim lainnya menikmati posisi sebagai tamu istimewa di pembukaan Konferensi Perubahan Iklim 2015 ini. Dan hal ini berpotensi membawa Konferensi ini pada kesepakatan beresiko yang mendukung pencarian keuntungan (profit) yang mengorbankan manusia dan bumi/alam.

(*) Diterjemahkan dari teleSUR oleh Raymond Samuel

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut