5 Fakta Yang Perlu Anda Tahu Tentang “Jahatnya” NATO

Dibentuk pertamakali di tahun 1949, Fakta Pertahanan Atlantik Utara atau NATO dijadikan kekuatan bersama untuk melindungi dan membela kepentingan dan perbatasan barat dari ancaman Uni Soviet semasa Perang Dingin.

Awalnya hanya terdiri dari 12 negara: Belgia, Kanada, Denmark, Perancis, Islandia, Itali, Luxemburg, Belanda, Norwegia, Portugis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Dalam dasawarsa berikutnya, keanggotaan NATO meluas menjadi 28 negara yang meliputi Amerika Utara, Eropa barat, Eropa tengah, Eropa utara, dan Eropa timur. Bahkan kini sudah punya kaki di pintu masuk Timur Tengah, yakni Turki.

Berikut ini lima fakta yang memperlihatkan NATO justru berkembang sebagai kekuatan yang “mengacaukan” dunia.

Satu, Pembantaian di Yugoslavia

17 tahun yang lalu, atau tepatnya 24 Maret 1999, NATO melancarkan serangan militer atas sokongan Amerika Serikat (AS) di Yugoslavia. Ini pertama kalinya dalam sejarah Organisasi Perjanjian Atlantik Utara menyerbu sebuah negara tanpa persetujuan Dewan Keamanan PBB.

Pengeboman ilegal membunuh setidaknya 5000 orang (beberapa sumber lain malah menyebut 15.000 orang), melukai 12.500 orang, dan menyisakan limbah uranium yang mengkontaminasi tanah. Akibatnya, banyak anak-anak Balkan yang terkena kanker.

Serangan itu juga menghancurkan 25.000 rumah dan merusak jaringan transportasi, termasuk merusak 300 mil jalan dan hampir 400 mil jalur kereta api. Disamping itu, banyak bangunan publik juga rusak, seperti 14 bandar udara, 19 rumah sakit, 18 taman kanak-kanak, 69 sekolah, 176 monumen bersejarah, dan 44 jembatan.

Kedua, menghancurkan Libya

AS, Inggris, dan Perancis bergabung dalam aksi milier dengan mengebom Libya pada Maret 2011. Akibat serangan itu, di tahun itu juga ada 25.000 rakyat Libya yang tewas dan 400.000 rakyat Libya kehilangan tempat tinggal. Sekarang Libya terperosok dalam konlik kekerasan: persaingan antar milisi bersenjata, dua pemerintahan terpisah yang saling berhadapan, dan bangkitnya Negara Islam (ISIS).

Intervensi NATO secara resmi berakhir pada Oktober 2011. Namun, saat ini Barat berpikir perlunya intervensi baru di Libya, bahkan perang darat, dalam rangka menghadapi kelompok Negara Islam (ISIS) dan rangka mengendalikan pengungsi ke Eropa.

Tiga, perang di Afghanistan

NATO memimpin International Security Assistance Force (ISAF) yang mengendalikan Afghanistan dari tahun 2001 hingga 2014. Hitungan The Project on Defense Alternatives menyebutkan, dalam waktu tiga bulan (7 Oktober 2001 hingga 1 Januari 2002) setidaknya 13.000 warga sipil yang tewas akibat serangan bom AS di bawah pengawasan NATO.

Di tahun 2002, media Inggris Guardian melaporkan bahwa 20.000 orang Afghanistan tewas di tahun 2001 akibat imbas tidak langsung serangan militer dari udara dan darat oleh AS dan NATO.

Lebih dari 200.000 orang Afghanistan terbunuh sejak invasi militer AS di tahun 2001. Dan itu atas sepengetahuan NATO, di mana AS menjadi anggotanya.

Empat, “Perang Dingin” abad 21

NATO dibentuk untuk melindungi barat dari ketakutan akan diserbu oleh Uni Soviet. Setelah perang dingin, pembenaran untuk eksistensi NATO sebetulnya sudah tidak ada.

Tapi sejak jatuhnya Soviet, barat dan NATO justru memperluas kehadiran kekuatan militer mereka di negara bekas Soviet di Eropa timur sebagai upaya untuk melemahkan pengaruh Rusia di kawasan tersebut.

AS dan NATO mengklaim kebijakan mereka itu lantaran adanya ancaman yang disebut “agresi Rusia”.

Salah satu kekuatan militer terbesar di dunia saat ini adalah Rusia. Dan Rusia, yang makin tidak nyaman dengan kebijakan Washington, telah memperingatkan tentang “Perang Dunia baru” seiring dengan meningkatnya ketengangan antara AS/Nato dengan Rusia.

“Kami dapat mengatakan dengan jelas: Kita sedang meluncur ke dalam perang dingin baru,” kata Perdana Menteri Rusia, Dmitry Medvedev.

“Hampir setiap hari kami dituduh membuat ancaman mengerikan baru terhadap NATO secara keseluruhan, terhadap Eropa, terhadap AS, dan terhadap negara lain.”

Selama beberapa tahun, NATO mendorong beberapa negara eropa timur bergabung dalam aliansinya. Sambil mengirim tentara ke negara-negara itu agar menyatakan komitmennya membenci Rusia.

Albania dan Kroasia bergabung ke NATO tahun 2009. Di tahun 2011, aliansi ini menyambut empat anggota baru: Bosnia, Georgia, Makedonia dan Montenegro.

Rusia tentu tidak tinggal diam dengan ekspansi ini. Akhir bulan lalu, Kremlin menyatakan siap perang asimetris untuk merespon rencana NATO mengirim lebih banyak tentara ke Eropa timur.

Akhir tahun lalu, Presiden Rusia Vladimir Putin juga meneken “perintah eksekutif” yang menempatkan NATO sebagai ancaman bagi Rusia.

Situasi itu memicu konflik antara kekuatan tua dunia, yakni Rusia versus Barat/AS. Sekalipun benturan kecil sudah terjadi di Ukraina, Suriah, dan Yaman.

Lima, alat militer Washington

Fakta yang paling rancu dari NATO adalah bahwa aliansi ini lebih sering menjadi perpanjangan tangan kepentingan AS, sekalipun kadang-kadang tidak selaras dengan negara anggota lainnya.

Menurut Noam Chomsky, sejak tahun 1991 NATO menjadi semacam “alat intervensi AS”.

“Intervensi NATO selama 2 dekade lebih sangat sedikit sekali bersinggungan dengan kepentingan menjaga keamanan negara anggotanya. Kendati pendirian awalnya bertujuan sebagai penjaga kemerdekaan dan keamanan anggotanya,” kata Danielle Ryan, seorang jurnalis freelance Irlandia dan analis media, melalui sebuah kolom di Russian Today pada Senin (4/4).

Aliansi ‘defensif’, yang katanya berkomitmen atas resolusi damai atas setiap konflik, justru telah bertindak sebagai sekutu AS dalam melakukan intervensi dan agresi terhadap negara lain di tiga benua (Asia, Afrika, dan Amerika latin).

Mohamed Hemish

(Diterjemahkan dari teleSUR)

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut