200 Aktivis Pro-demokrasi Yang Ditahan Pemerintah Bahrain Mogok Makan

Sedikitnya 200 orang yang dipenjara oleh pemerintahan otoriter Bahrain melakukan mogok makan, Senin (5/9). Mereka adalah aktivis hak azasi manusia dan pro-demokrasi yang memperjuangkan demokrasi di Bahrain.

Menurut Pusat Hak Azasi Manusia Bahrain (BHRC), sebagian besar peserta mogok sudah mengalami masa kritis dan dilarikan ke rumah sakit. Aktivis hak azasi manusia, Abdulhadi al-Khawaja, juga terlibat dalam aksi mogok makan.

Minggu lalu, pemerintah Bahrain menangkap 23 dokter dan 24 perawat karena merawat sejumlah demonstran yang terluka saat protes anti-monarkhi. Sejumlah dokter dan perawat pun bergabung dalam protes anti-monarkhi.

Sebuah laporan juga menyebutkan, pemerintah Bahrain telah menangkap Roula al-Saffar, kepala masyarakat perawat Bahrain, dan Jalila al-Salman, wakil presiden asosiasi guru Bahrain, karena terlibat dalam protes anti-monarkhi.

Selain itu, pemerintahan otoriter Bahrain juga menangkap pimpinan utama partai oposisi Syiah–Al Wefaq.

Seorang Pemuda Tewas

Seorang pemuda berusia 14 tahun dilaporkan tewas setelah tembakan gas air mata polisi menyerbu kerumunan kecil demonstran.

Ali Jawad Ahmed, nama pemuda itu, dilaporkan tertembak saat berada di tengah kerumunan protes di desa Sitra.

Sebuah foto memperlihatkan bagaimana darah merembes dari mulut pemuda itu.

Keluarga korban menuduh polisi telah bertindak di luar batas saat menangani sebuah protes kecil. Sitra sendiri merupakan sebuah desa dengan mayoritas Syiah yang menuntut perubahan ekonomi-politik di Bahrain.

Setidaknya 30 orang dilaporkan tewas sejak protes mulai muncul di Bahrain. Kerajaan Arab Saudi mengirimkan ratusan kendaraan lapis baja dan ribuan tentara untuk menindas gerakan pro-demokrasi.

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
Tags: