15 Tahun Perjalanan PRD

Senin sore, 22 Juli 1996, di kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI). Ratusan orang, sebagian besar berusia 20-an tahun, menghadiri  pendeklarasian partai baru: Partai Rakyat Demokratik (PRD).

Kelahiran PRD 15 tahun yang lalu adalah sejarah kelahiran kembali gerakan politik rakyat Indonesia, setelah selama 30-an tahun ditindas dan diharamkan oleh rejim orde baru. Sejarah perkembangan PRD pun adalah sejarah perjuangan politik rakyat Indonesia untuk menegakkan kedaulatannya. Dimana, dalam upaya mencapai tujuan itu, PRD telah menempatkan kekuatan rakyat sebagai inti gerakan politik. Hal itu sangat nampak jelas dalam di bagian penutup Manifesto PRD  tahun 1996 yang berbunyi: “untuk itu Partai Rakyat Demokratik (PRD) percaya dan yakin bahwa pengorganisiran rakyat adalah satu-satunya cara untuk menegakan kedaulatan rakyat.

Dalam perjalanan 15 tahun itu, PRD telah melalui tahap-tahap penting dalam perjuangan rakyat Indonesia: pada awalnya adalah perjuangan melawan kediktatoran orde baru, dan sekarang ini adalah perjuangan melawan imperialisme.

Dalam periode singkat itu, muncul berbagai perdebatan di internal partai seputar strategi dan taktik menghadapi situasi-situasi baru tersebut, yakni peralihan dari situasi kediktatoran menjadi situasi liberal, dari menekankan perjuangan demokrasi menjadi perjuangan pembebasan nasional.

Ada sebagian orang yang mengatakan, tujuan PRD untuk membuka ruang-ruang demokrasi sudah tercapai dan, karena itu, saatnya untuk memanfaatkan ruang demokrasi itu sebaik mungkin. Sementara yang lain mengatakan, perjuangan membuka demokrasi hanyalah salah satu ‘tahapan’—dari sekian tahapan—dalam perjuangan PRD untuk membebaskan rakyat dari penindasan dan penghisapan.

Oleh pendapat pertama, PRD dianjurkan untuk bekerja dalam kerangka demokrasi dan kerangka politik yang tercipta saat ini. Atau, ringkas kata, silahkan PRD menikmati ruang demokrasi yang sudah diperjuangkannya itu.

Sementara pendapat yang kedua mengarah pada begitu banyak sekali tawaran politik, diantaranya: (1) menolak berpartisipasi dalam ruang politik yang ada dan tetap konsisten di garis ekstra-parlementer. (2) melihat ruang politik itu sebagai langkah ‘taktis’ untuk memajukan gerakan politik rakyat.

Sejak tahun 1999 hingga sekarang, PRD setidaknya tiga kali berusaha menggunakan momentum pemilu untuk agenda politik memperluas dan memperbesar daya politik gerakan rakyat: pemilu 1999, pemilu 2004, dan pemilu 2009. Akan tetapi, dalam proses memanfaatkan ruang politik itu, dinamika internal partai ditandai dengan munculnya perdebatan-perdebatan keras dan tidak sedikit yang berakhir dengan perpecahan (split).

Keikutsertaan PRD pada pemilu 2009, sekalipun dengan menggunakan kendaraan politik partai lain, telah memberikan “pembelajaran” penting kepada PRD. Bukan saja tentang bagaimana mengenal medan politik demokrasi liberal, tetapi sekaligus mengerti situasi dan tantangan perjuangan sekarang ini.

Kita menjadi tahu, bahwa untuk menjadi sebuah kekuatan politik alternatif, kita tidak bisa sekedar berteriak-teriak bahwa kita adalah alternatif, tetapi harus ada pengorganisasian rakyat   dari bawah dalam waktu yang tidak singkat. Kita semakin mengerti bahwa perjuangan sekarang ini memerlukan “kesabaran revolusioner”—mengutip istilah Njoto, salah seorang penulis pidato Bung Karno.

Untuk itu, dalam kongres VII PRD, 1-3 Maret 2010 lalu, telah ditegaskan tugas mendesak partai: pembangunan partai (party building). Kongres itu juga telah mengubah PRD dari partai kader menjadi partai terbuka atau partai massa.

Sekarang ini kita sedang berhadapan dengan situasi yang semakin jelas: penjajahan asing (imperialisme) yang semakin agressif. PRD pun sangat menyadari situasi baru ini dan memahami tantangan-tantangannya. Karena itu, PRD telah menyusun sebuah Manifesto Politik yang baru, sebagai jawaban terhadap problem pokok rakyat Indonesia saat ini: Imperialisme.

Oleh karena itu, jika deklarasi PRD pada 22 Juli 1996 lalu telah mengumandangkan perjuangan melawan orde baru—dengan tiga tuntutan pokok: pencabutan 5 paket UU Politik dan Dwi Fungsi ABRI, maka pada peringatan 15 tahun PRD hari ini telah berkumandang “gerakan nasional pasal 33” sebagai bentuk perlawanan langsung terhadap imperialisme.

Akhirnya, PRD—sebagaimana partai-partai revolusioner di masa perjuangan anti-kolonial—telah berjuang bersama rakyat Indonesia. Sampai sekarang, banyak kader PRD masih hilang karena diculik rejim orde baru dan sampai sekarang belum diketahui keberadaannya, diantaranya: Wiji Thukul, Herman Hendrawan, Suyat, Bimo Petrus, dan lain-lain. Ada banyak pula kader-kader PRD yang gugur dalam saat-saat perjuangan: Gilang (Diculik oleh aparat rejim orba dan ditemukan mayatnya di Madiun, Jawa Timur) Yusuf Rizal, Saddam Husein, Andi Munajat, dan Taufik (meninggal karena ditabrak lari saat mengadvokasi rakyat di NTB).

Kita berharap, PRD bisa berkembang terus menjadi partai yang kuat dan kokoh, tahan terhadap panas dan hujan, yang menjadi tempat bernaungnya kaum revolusioner dan menghimpun sebanyak-banyaknya rakyat Indonesia.

Dirgahayu PRD! Berjuang terus untuk mewujudkan Sosialisme Indonesia!

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut
  • Laskar Pelangi Bintang Kecil

    Satulagi 2 elit” PRD yg di culik/menculikan diri=Budiman sujatmiko+Ditasari

  • Seharusnya di tambah juga dengan kader PRD yang aktive dan meninngal seperti mahmudal aceh,sarfias wiresafta sorenggana di NTB dan banyak lagi kader di daerah yg meninggal dengan posisi konsisten di PRD