10 Presiden ini Pernah Dipenjara Karena Perjuangannya

Abad ke-20 melahirkan banyak sekali pemimpin dari kancah pergerakan rakyat. Mereka adalah pejuang-pejuang kemerdekaan, anti-kediktatoran, anti-rasisme, anti-neoliberalisme dan anti-imperialisme.

Mereka merasakan pahit-getirnya perjuangan. Ada yang pernah dipenjara, dibuang, penyiksaan, hingga upaya pembunuhan. Bagi mereka, penjara merupakan sekolah untuk melatih kesabaran revolusioner dan daya juang.

Malahan, di dalam penjara, mereka melahirkan karya-karya menakjubkan berupa pidato pembelaan (pledoi), puisi, novel hingga buku tebal yang kaya gagasan. Persis seperti dikatakan filsuf Slovenia Slavoj Žižek: “Kurangnya kebebasan bergerak tidak membatasi kebebasan berfikir.”

Berikut ini 10 Presiden yang pernah dipenjara karena perjuangannya:

Sukarno

Sukarno adalah tokoh penting pergerakan anti-kolonial setelah kegagalan pemberontakan 1926/27 di Jawa dan Sumatera. Dia berhasil menggerakkan rakyat jelata, dengan program politik yang langsung menghunjam jantung kolonial, di bawah panji-panji Partai Nasional Indonesia (PNI).

Dari tahun 1928-1929, PNI menggelar aksi politik besar-besaran: vergadering, aksi massa hingga kursus politik massa. Sukarno tampil sebagai “singa podium”. Propaganda PNI menohok langsung ke jantung kolonial.

Hal itu membuat penguasa kolonial ketar-ketir. Mereka segera menangkap Sukarno dan kawan-kawannya pada 29 Desember 1929. Sukarno digiring keluar dari rumah kawannya di Yogyakarta, lalu diangkut dengan kereta api ke penjara Bantjeuj, Bandung.

Sukarno resmi ditahan tanggal 30 desember 1929. Karena dianggap tokoh berbahaya, dia ditaruh di penjara isolasi ukuran satu setengah meter. Pengap, gelap dan pesing.

soekarno-im-jpg
Sukarno dan kawan-kawan saat Persidangan di Landraad Bandung tahun 1930

Namun, siapa sangka, di ruang sempit itulah Sukarno melahirkan karya besarnya: pledoi Indonesia Menggugat. Pidato itu membakar, kaya referensi, berbasiskan data-data, dan berdaya-gugat. Pidato itu menjadi salah satu karya monumenal Sukarno.

Namun demikian, pidato berdaya gugat itu tidak membuat Sukarno bebas dari hukuman penjara. Dia dipenjara selama 2 tahun (1929-1931). Sukarno menghirup udara bebas tanggal 31 Desember 1931.

Namun, itu hanya sebentar. Panggilan Ibu Pertiwi membuat Sukarno kembali turun ke gelanggang perjuangan. Sukarno kembali ditangkap pada Agustus 1933. Kali ini Sukarno langsung mendapat hukuman pembuangan. Dia dibuang ke Pulau Ende, Flores, Nusa Tenggara Timur, antara 1933 hingga 1938.

Tahun 1938, karena serangan penyakit, Sukarno dipindah ke Bengkulu. Sukarno dalam pembuangan di Bengkulu selama 4 tahun (1938-1942). Dia baru bebas tahun 1942, itupun karena Belanda ditaklukkan Jepang.

Setelah merdeka, tepatnya di bulan Desember 1945, setelah Ibukota RI di Jogjakarta jatuh ke tangan Belanda, Sukarno kembali dibuang ke Sumatera: Brastagai, Parapat dan Pulau Bangka.

Fidel Castro

Fidel Castro adalah tokoh penting revolusi Kuba. Dia yang memimpin perjuangan rakyat Kuba menggulingkan diktator Fulgencio Batista.

Awalnya, Fidel aktif di pergerakan mahasiswa. Kemudian membangun gerakan bawah tanah bernama “Gerakan”. Tanggal 26 Juli 1953, Fidel dan kawannya melakukan serbuan ke barak militer di Moncada.

Sayang sekali, serangan prematur itu gagal. Fidel dan kawan-kawannya ditangkap. Dia kemudian ditahan dibalik jeruji besi. Pada September 1953, Fidel dan kawan-kawannya mulai diajukan ke depan pengadilan.

Fidel Castro dan kawan-kawan di penjara Santiago, Kuba, 1953.
Fidel Castro dan kawan-kawan di penjara Santiago, Kuba, 1953.

Pada Oktober 1953, dia menyampaikan pledoinya yang terkenal, History Will Absolve Me (Sejarah akan membebaskan saya). Pidato selama 4 jam itu juga berdaya gugat. Kendati demikian, Fidel tetap dituntut hukuman penjara 15 tahun.

Beruntung, pada 1955, Fidel mendapat amnesti dari diktator Batista. Begitu menghirup udara bebas, Fidel langsung mengorganisir kembali gerakan perlawanan. Hingga memenangkan revolusi Kuba pada 1 Januari 1959.

Ho Chi Minh

Ho Chi Minh, atau biasa dipanggil “Paman Ho”, adalah bapak pembebasan Vietnam. Dialah yang memimpin revolusi kemerdekaan Vietnam dari kolonialisme Perancis.

Tahun 1920-an, Ho banyak beraktivitas politik di Tiongkok. Di sana dia mengorganisir pemuda dan diaspora Vietnam. Di tahun 1927, karena aksi reaksioner dari kaum nasionalis Koumintang (KMT), Ho terpaksa ke Rusia. Tetapi kembali lagi Tiongkok di tahun 1929.

Pada Juni 1931, Ho tertangkap di Hongkong oleh polisi Inggris—saat itu Hongkong masih koloni Inggris. Dia dituduh aktivis komunis dan menggalang gerakan subversif. Ho mendekam di penjara hingga tahun 1933. Setelah bebas, Ho pergi ke Moskow hingga 1938.

Tahun 1942, Ho kembali ditangkap di Tiongkok selatan. Kali ini dia ditangkap oleh tentara Koumintang (KMT)-nya Chiang Kai-Shek. dia dituduh mata-mata dan langsung dipenjara. Penjaranya mengerikan: kakinya diikatkan pada bola besi. Ho baru menghirup udara bebas pada September 1943.

Yang menarik, pada saat dipenjara, Ho membuat banyak puisi berisi curahan hatinya. Puisi-puisi kelak diterbitkan dengan judul “Prison Diary”. Dia antara lain menulis puisi ini:

Cahaya Bulan

Untuk tahanan, di sini tidak ada alkohol ataupun bunga

Tapi malam begitu indah, bagaimana kita merayakannya?

Saya ke lubang udara dan menatap bulan

Dan melalui lubang udara bulan tersenyum pada penyair

Nelson Mandela

Nelson Mandela adalah bapak pembebasan Afrika Selatan sekaligus pejuang anti-apartheid. Perjuangannya persis seperti judul buku Tan Malaka: Dari Penjara ke Penjara.

Tahun 1942, Mandela bergabung dengan organisasi perlawanan terbesar rakyat Afrika Selatan, Kongres Nasional Afrika (ANC). Tahun 1944, dia turut membidani pendirian Sayap Pemuda ANC (ANCYL).

Tahun 1952, Mandela terlibat dalam kampanye memprotes tujuh Undang-Undang yang tidak adil. Bukannya direspon, Mandela malah ditangkap. Dia dituduh terlibat aktivitas komunisme. Dia dihukum 9 bulan kerja paksa.

Pada Desember 1955, Mandela kembali ditangkap. Ratusan aktivis lainnya juga ditangkap. Mereka kemudian digiring dalam persidangan yang sama atas tuduhan penghianatan. Mandela baru dibebaskan pada Maret 1961.

Di tahun 1960-an, karena tekanan rezim apartheid yang makin keras, terutama setelah pembantaian 69 orang di Sharpeville, ANC melirik perjuangan bersenjata. Mandela yang ditunjuk untuk membentuk sayap bersenjata ANC, Umkhonto we Sizwe(Tombak Bangsa).

Pada Januari 1962, Mandela meninggalkan Afrika secara diam-diam. Dia berkeliling ke Afrika dan mengunjungi Inggris guna mencari dukungan atas perjuangannya. Dia juga ikut pelatihan militer di Maroko dan Ethiopia.

Dia kembali ke Afrika Selatan pada Juli 1962 dan tertangkap. Dia dituduh keluar negeri tanpa izin dan menghasut pemogokan buruh. Dia dinyatakan bersalah dan dihukum 5 tahun penjara. Awalnya dia ditahan di penjara lokal Pretoria, lalu di pindahkan ke penjara di tengah pulau Robben.

Bersamaan dengan proses itu, polisi menggeledah sebuah rumah persembunyian aktivis ANC dan komunis. Dari situ muncul tuduhan bahwa Mandela mendalangi aksi sabotase. Akhirnya, pada Oktober 1963, Mandela bersama 10 kawannya menjalani persidangan yang disebut “Rivonia Trial”.

Pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada Mandela dan kawan-kawannya. Di situ dia menyampaikan pidatonya yang terkenal: Speech from the Dock. Dalam pidato itu, Mandela menyatakan siap mati demi memperjuangkan masyarakat Afrika Selatan yang demokratis.

nelson-mandela-in-prison
Nelson Mandela di dalam Penjara Pulau Robben

Mandela kemudian menjalani penjara selama 27 tahun. Sebagian besar dihabiskan di penjara Pulau Robben. Saat dipenjara, Mandela dihampiri kabar duka: ibunya meninggal tahun 1968 dan anaknya meninggal 1969. Sedihnya, Mandela dilarang menghadiri pemakaman dua orang yang dicintainya itu.

11 Februari 1990, Mandela menghirup udara bebas. Dia langsung ditunjuk sebagai Wakil Presiden ANC. Tahun 1991, dia terpilih sebagai Presiden ANC. Dan di tahun 1993, dia menerima penghargaan Nobel Perdamaian.

Bagi Mandela, penjara selama 27 tahun tak ubahnya liburan. “Aku pergi berlibur panjang selama 27 tahun,” kata Mandela.

Lula da Silva

Lula lahir dari keluarga sangat miskin di Brazil. Saking miskinnya, Lula tidak punya biaya untuk menuntaskan pendidikan dasarnya. Lula kecil kemudian jadi anak jalanan: dari pedagang asongan hingga tukang semir sepatu.

Setelah remaja, dia bekerja di pabrik suku cadang mobil. Jari kelingkingnya hilang karena sebuah kecelakaan kerja. Dari situ dia mulai terlibat dalam gerakan buruh.

Saat itu, Brazil diperintah oleh rezim militer. Rezim militer sangat menghambat aktivitas serikat buruh. Tahun 1972, dia menjadi salah satu anggota Dewan Buruh di Serikat buruh Metal Sao Bernando. Tahun 1975, Lula terpilih sebagai Presiden Serikat Buruh.

Di tangannya, gerakan buruh menguat. Pemogokan besar terjadi di mana-mana. Pusatnya di tiga kawasan indutri yang disebut ABC: Santo André, São Bernardo dan São Caetano.

Puncaknya, pada Maret 1979, Lula memimpin aksi buruh yang dipusatkan di sebuah stadion sepak bola Vila Euclides di  São Bernardo. Pemogokan itu dihadiri 170 ribu orang. Lantaran itu, rezim militer langsung ketar-ketir.

Polisi dan militer dikirim untuk melibas pemogokan. Lula memindahkan massa buruh ke sebuah gereja. Lula tidak menyerah.

Pada peringatan Hari Buruh Sedunia 1 Mei 1979, Lula berhasil memobilisasi 150 ribu orang ke sebuah stadion. Setahun kemudian, Lula juga menginisasi pemogokan ratusan ribu buruh selama 14 hari di sejumlah kawasan industri.

Lula saat ditangkap tahun 1980
Lula saat ditangkap tahun 1980

Tak hanya membangun gerakan buruh, Lula juga membuat gerakan politik. Pada Februari 1980, dia memprakarsai berdirinya Partai Buruh, partai yang berhaluan marxis dan terang-terangan menentang kediktatoran.

Rezim militer sangat gerah. Akhirnya, pada April 1980, Lula ditangkap. Saat dipenjara, berita duka datang merundungnya: ibunya meninggal. Dia menghadiri pemakaman ibunya dengan tangan terborgol dan dikawal polisi bersenjata.

Menghirup udara bebas, Lula makin giat dalam perjuangan politik. Tiga kali dia maju sebagai Calon Presiden, yakni 1989, 1994 dan 1998, tetapi gagal semua. Barulah di Pemilu 2002, Lula menang dan menjadi rakyat jelata pertama yang berhasil menjabat Presiden. Dia menjabat 2 periode dan menjadi Presiden paling populer dalam sejarah Brazil.

Hugo Chavez

Chavez adalah simbol kebangkitan politik anti-neoliberalisme di Amerika latin. Dia juga simbol dari serdadu yang setia pada negara dan rakyatnya.

Neoliberalisme sudah dipraktekkan di Amerika latin sejak 1970-an. Di Venezuela, pada tahun 1980-an, neoliberalisme telah melahirkan krisis ekonomi. Rezim neoliberal saat itu, Carlos Andrés Perez, menaikkan harga BBM.

Protes meletus di Caracas, Ibukota Venezuela. Pemerintahan Andres Perez menumpas protes itu dengan mengerahkan militer. Beberapa sumber menyebut, korban jiwa mencapai 3000 orang dan 2000-an orang hilang.

Di tubuh militer terjadi ketidakpuasan. Mereka bersimpati dengan gerakan rakyat. Mereka membangun gerakan klandestein yang disebut Pergerakan Revolusioner Bolivarian 200 (MBR-200). Pergerakan ini dipimpin oleh Letkol Hugo Chavez.

Pada 4 Februari 1992, Chavez memimpin 6000 tentara memberontak terhadap rezim Andres Perez. Namun, karena kurangnya keterlibatan rakyat, pemberontakan ini gagal. “Itu bagai ikan tanpa air,” kata Chavez menggambarkan pemberontakan itu.

Akhirnya, pada hari ke-4 pemberontakan, Chavez muncul di televisi dan mengumumkan menyerah. “Saya menyerah untuk sekarang ini,” kata Chavez di layar kaca. Dia bersama 300-an pasukannya dijebloskan ke penjara.

Chavez saat menyerah setelah pemberontakan yang gagal, Februari 1992
Chavez saat menyerah setelah pemberontakan yang gagal, Februari 1992

Tahun 1994, Chavez bebas. Dia kemudian berkeliling ke seluruh negeri untuk membangun pergerakan politik. Namanya: Pergerakan untuk Republik Kelima (MVR). Pada pemilu 1998, MVR menang dan mengantarkan Chavez sebagai Presiden.

Jose ‘Pepe’ Mujica

Nama Jose Mujica menjulang tinggi beberapa tahun terakhir setelah media besar, termasuk BBC, menyebutnya “Presiden termiskin di dunia”. Gaya hidup sederhananya memikat banyak orang, termasuk klas menengah dan sektor politik kanan.

Namun, siapa sangka, di masa mudanya Mujica adalah seorang gerilyawan marxis. Dia anggota dari Gerakan Pembebasan Nasional Tupamaros (MLN-Tupamaros), sebuah organisasi politik marxis yang menjalankan taktik gerilya kota di Uruguay.

Tupamaros sering dicap organisasi Robin Hood. Pasalnya, organisasi yang didirikan oleh Raúl Sendic, seorang marxis, ini kerap merampok truk pengangkut makanan dan membagi-bagikannya untuk rakyat miskin. Mereka merampok bank untuk mendanai pergerakan dan dibagikan ke kaum miskin. Juga kerap menculik pengusaha untuk memaksanya memenuhi tuntutan buruh.

Lantaran aksinya itu, Tupamaros jadi incaran polisi dan intelijen. Pada tahun 1970, Mujica nyaris mati. Dia terlibat tembak-menembak dengan polisi. Dia tertembak 6 kali, tetapi masih berhasil bertahan hidup.

mujica-prisonerTahun 1971, Mujica berhasil kabur dari penjara melalui terowongan yang digali dari dalam penjara. Namun, sebulan kemudian dia tertangkap lagi. Di penjara di Punta Carretas. Namun, pada April 1972, dia kembali berhasil kabur.

Tetapi tahun itu Mujica tertangkap lagi. Dia dijatuhi hukuman penjara 14 tahun. Dua tahun diantaranya dia ditaruh di penjara isolasi di bawah tanah. Tidak pernah mandi. Dan hanya berteman dengan tikus dan katak. “Hanya tikus dan katak itu yang bisa jadi kawan saya,” kenangnya.

Namun, penjara tidak merobohkan daya juang Mujica. Militansinya setebal baja. Tahun 1985, dia menghirup udara bebas. Dia mendirikan Gerakan Partisipasi Kerakyatan (MPP). Kelak, organisasi ini akan bergabung dalam Frente Amplio, sebuah koalisi lebar antara partai-partai marxis, kristen demokrat, dan sosial-demokrat.

Tahun 1994, Frente Amplio berhasil menghantarkan Mujica sebagai anggota parlemen. Tiap hari ke kantor hanya mengendarai motor vespa. Dia juga menjadi corong kaum tertindas.

Tahun 2005, Frente Amplio menang pemilu. Presidennya seorang dokter berfaham kiri, Tabare Vasquez. Sedangkan Mujica ditunjuk sebagai Menteri Pertanian, Peternakan dan Perikanan.

Tahun 2009, Frente Amplio menang lagi dan Mujica terpilih sebagai Presiden. Kendati sudah jadi Presiden, Mujica tetap mempertahankan gaya hidupnya yang sederhana: tinggal di rumahnya yang di tengah lahan pertanian, tidak punya pembantu, tetap memakai mobil tuanya jenis Volkswagen Beetle keluaran 1987, dan 90 persen gajinya disumbangkan untuk program sosial.

Dilma Rousseff

Dilma Rousseff adalah perempuan pertama yang menjadi Presiden dalam sejarah Brazil. Dia adalah politisi dari partai kiri, Partai Buruh (PT). Dia juga dikenal sebagai ekonom.

Dilma lahir di tengah keluarga kaya. Namun, ketika di sekolah tingkat atas (SMU), Brazil dilanda kudeta militer. Dan pemerintahan Militer berkuasa puluhan tahun. Situasi itulah yang menyeret Dilma menjadi politisi dan revolusioner.

Awalnya dia bergabung dengan organisasi marxis, Politik Buruh (POLOP). Kendati organisasi ini sangat radikal, tetapi tidak menggunakan perjuangan bersenjata. Dilma banyak membaca buku-buku filsuf marxis Perancis, Regis Debray, yang memberikan manual tentang perjuangan gerilya. Itulah yang membuat Dilma kurang puas dengan metode perjuangan POLOP.

Akhirnya, ketika sedang kuliah di jurusan ekonomi Universitas Federal Minas Gerais, Dilma bergabung dengan organisasi gerilyawan marxis bernama Komando Revolusioner Nasional (COLINA). COLINA juga menerapkan taktik gerilya kota: menculik petinggi militer maupun politisi korup, merampok bank, dan lain sebagainya.

Tahun 1969, sel-sel COLINA mulai diobrak-abrik polisi. Dilma pun terpaksa berpindah-pindah. Dia memakai nama samaran “Stella”. Karena makin terpisah-pisah, Dilma dan beberapa bekas anggota COLINA bergabung dengan gerilyawan marxis lain bernama Angkatan Bersenjata Pelopor Revolusioner Palmares (VAR Palmares).

VAR Palmares juga menjalankan gerilya kota. Salah satu sukses besar VAR Palmares adalah merampok seorang koruptor terbesar di kota Rio de Jeneiro, Adhemar de Barrso. Mereka berhasil membawa kabur uang sebesar 2,5 juta USD untuk dana perjuangan.

Dilma Rousseff saat menjalani persidangan
Dilma Rouseff saat menjalani persidangan

Tahun 1970, Dilma tertangkap. Dia langsung dibawa ke markas intelijen OBAN dan disiksa. Dilma disiksa luar biasa. Salah satunya: dia digantung dengan tangan dan kaki terikat. Juga berkali-kali disetrum dengan listrik.

Tahun 1972, Dilma bebas. Dia segera menyelesaikan kuliahnya di jurusan ekonomi. Dia kemudian bergabung dengan Partai Buruh (PT) yang didirikan oleh Lula da Silva di tahun 1980.

Tahun 2010, dia menang pemilu dan menjadi perempuan pertama yang menjadi Presiden di Brazil.

Daniel Ortega

Daniel Ortega lahir dari keluarga pejuang. Bapak dan ibunya penentang diktator Somoza. Dua kakak laki-lakinya juga penentang rezim Somoza.

Tidak mengherankan, Ortega mulai terjun ke pergerakan sejak usia belia. Di usia 15 tahun, dia sudah menjadi anggota gerilyawan marxis Front Pembebasan Nasional Sandinista (FSLN). Aksi pertamanya adalah merampok Bank of America untuk dana perjuangan.

Di usia 26 tahun, Ortega tertangkap. Dia dijebloskan di sebuah penjara di Managua. Di dalam penjara, dia menerima penyiksaan yang luar biasa. Namun demikian, Ortega tidak menyerah. Dari bilik jeruji besi dia menulis puisi berjudul “I never saw Managua when miniskirt were in fashion”.

Puisi itu membuat seorang perempuan jatuh cinta. Namanya Rosario Murillo. Rosario mengunjungi Ortega di penjara. Keduanya segera jatuh cinta. Begitu keluar dari penjara, Ortega menikahi Rosario dan punya 8 anak.

Pada Desember 1974, sekelompok gerilyawan Sandinista menyerbu sebuah rumah pejabat Somoza. Mereka menculik pemilik rumah tersebut. Orang itulah yang dipertukarkan dengan Ortega belasan anggota Sandinista lainnya yang dipenjara.

Keluar dari penjara, Ortega pergi ke Kuba. Di sana dia mendapat pelatihan militer. Tak lama kemudian, dia kembali ke Nikaragua secra diam-diam. Lalu pindah lagi ke Costa Rica selama 4 tahun untuk menyiapkan aksi bersenjata.

Tahun 1979, situasi revolusioner menaik. Pemogokan umum terjadi di mana-mana. Pada saat itulah Sandinista melancarkan pukulan telak dan berhasil menggulingkan diktator Somoza.

Evo Morales

Evo lahir dari keluarga petani miskin di Orinoca, provinsi Sud Caranas, Departemen Oruro, Bolivia. Dia dilahirkan tanpa bantuan dokter. Dari 7 bersaudara, hanya Evo dan dua saudaranya yang bertahan hidup.

Karena kemiskinan, Evo tidak berhasil menuntaskan pendidikannya hingga sekolah menengah atas. Dia, seperti pemuda masyarakat asli lainnya, terpaksa menjadi petani. Yaa, petani koka.

Bersamaan dengan itu, Amerika Serikat sedang menggencarkan perang melawan narkoba. Termasuk di Amerika latin. AS memerintahkan pemusnahan daun koka. Ironisnya, rezim berkuasa di Bolivia justru patuh dalam melayani kepentingan AS itu.

Tentu saja rakyat Bolivia tidak setuju. Koka bukan hanya mata penghidupan, tetapi juga warisan kultural. Rakyat Bolivia sudah mengenal budidaya koka sejak ribuan tahun. Tidak hanya itu, daun koka juga dibuat jadi teh, sayuran, dikunyah untuk mengurangi lapar dan lelah, dan obat-obatan.

Petani Koka menuntut hak menanam koka. Untuk keperluan itu, federasi petani koka berdiri di mana-mana. Evo tampil sebagai aktivis petani. Terutama setelah seorang petani dibakar hidup-hidup oleh pasukan patroli anti-narkoba (UMOPAR).

Di akhir 1980-an, Evo mulai tampil sebagai pemimpin serikat petani. Dia memimpin aksi pendudukan, blokade jalan, mogok makan, aksi jalan kaki hingga pawai. Situasi itu membuat represi dari rezim berkuasa meningkat.

Tahun 1989, Evo nyaris mati. Dia ditangkap UMOPAR dan disiksa hingga nyaris mati. Dia dibuang ke sungai karena disangka sudah mati. Beruntung, petani berhasil menemukan dan menyelamatkan nyawanya.

Tahun 1990an, protes anti pemusnahan koka meningkat. Ini berbarengan dengan menguatnya menentang kebijakan neoliberalisme.

evo-prisoner
Evo Morales di penjara tahun 1994

Pada Agustus 1994, Evo ditangkap UMOPAR lagi. Dia disiksa dan langsung dipenjara. Di dalam penjara dia menggelar aksi mogok makan. Bersamaan dengan itu, petani koka berencana menggelar aksi jalan kaki 600 kilometer ke Ibukota La Paz.

Sebulan di penjara, Evo bebas. Dia langsung memimpin aksi jalan kaki itu. Di tengah jalan, mereka diserang polisi dan militer, tetapi petani tidak menyerah. Mereka berhasil memasuki kota La Paz dan mendapat sambutan meriah.

Pada April 1995, Evo tertangkap lagi. Dia dituduh menyiapkan kudeta. Tetapi tuduhan itu tidak terbukti. Setelah mendekam dalam penjara beberapa minggu, Evo akhirnya bebas.

Teror dan ancaman pembunuhan terus mengejar Evo. “Saya merasakan saat sulit ketika di Eterazama (1997), ketika helikopter DEA (agen pengendalian obat terlarang AS) memberondong kami peluru dan lima orang mati dalam semenit. Di kantor HAM, di Villa Tunari (2000), ada upaya menembakku dengan peluru, tapi gagal, peluru hanya menyerempet saya,” kenangnya.

Tahun 2005, Evo dan partainya, Gerakan untuk Sosialisme (MAS), memenangkan pemilu. Evo dilantik sebagai Presiden pada tahun 2006 dan menjadi pribumi pertama yang menjadi Presiden dalam sejarah Bolivia.

Rudi Hartono

Apa reaksi Anda atas artikel ini?
  • Terinspirasi
  • Senang
  • Sedih
  • Marah
  • Tidak Peduli
  • Takut